Pdt Binsar Parlindungan Sababalat, S.Th sebagai Eporus GKPM memimpin ibadah pembukaan Sidang MPL PGI. Ibadah menggunakan liturgi GKPM dengan lagu-lagu yang dinyanyikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Mentawai. Sepanjang ibadah diwarnai dua kali mati lampu dan ada sedikit permasalahan di proyektor. Menariknya adalah nyanyian tetap dinyanyikan dengan lantang secara acapella. Demikian juga saat nyanyian Indonesia Raya juga dinyanyikan dengan lebih keras tanpa musik yang mengalami gangguan. Setelah ibadah selesai, dilanjutkan sambutan-sambutan dari berbagai pihak. Ada suatu pelajaran penting bagi saya tentang humor seorang pemimpin. Ceritanya ketika pembawa acara menyampaikan bahwa sambutan yang pertama adalah perwakilan dari Kementrian Dalam Negeri. Yang dipanggil tidak kunjung naik ke podium, peserta mulai sedikit resah. Akhirnya pembawa acara menyampaikan maaf dan meralat bahwa yang memberikan sambutan adalah ketua panitia Sidang MPL PGI tahun 2024. Eporus Binsar menyampaikan sambutan sebagai ketua panitia, beliau berkata : “Maaf atas kesalahan, karena memang kesalahan harus lebih dulu, baru kemudian kebenaran”. Kalimat itu mengundang tawa dan memecahkan kekakuan yang timbul karena kesalahan pembawa acara. Inilah pentingnya humor untuk memecahkan kebekuan. Nelson Mandela mengatakan bahwa humor adalah cara terbaik untuk mencairkan ketegangan dan membangun hubunan dengan orang lain. John F. Kennedy menyampaikan hubungan antara humor dan kepemimpinan. Dia menyampaikan : “Seorang pemimpin yang tidak bisa tertawa pada dirinya sendiri tidak bisa memimpin orang lain’. Isi sambutan-sambutan sangat menginspirasi, seperti catatan dibawah ini :
Dari Yogyakarta ke Tuapeijat Mentawai
Dari Yogyakarta ke Tuapeijat Mentawai. Oleh Sundoyo. Ketua Bapelsin XXIX GKJ. Ini perjalanan kali pertama saya di acara Sidang MPL PGI. Perjalanan sebagai wakil Sinode di PGI, lembaga oikumene di Indonesia dimana GKJ ikut menjadi bidan yang melahirkan. Saya berangkat dengan posisi menggantikan keanggotaan Bapak Pdt Aris Widaryanto di MPL PGI. Sidang dilaksanakan hari Jumat – Senin, 26 sd 29 Januari 2024, dilaksanakan di Tuapeijat – Mentawai. Karena Mentawai adalah kepulauan di wilayah Propinsi Sumatera Barat, maka perjalanan dari Yogya ke lokasi sidang cukup menantang. Saya berangkat dari Yogyakarta Internasional Airport dengan pesawat jam 6.25 sehingga harus sudah bangun jam 4 pagi. Segera pesan gojek dan angkat rangsel menuju stasiun tugu untuk naik kereta bandara. Perjalaan yang nyaman dan murah dengan moda transportasi umum, tentu ini hasil kerja pemerintah yang menghadirkan fasilitas transportasi umum yang bagus. Pesawat berangkat pagi disertai dengan cahaya matahari yang cerah, yang sudah menghilang selama satu minggu di Yogya. Matahari terasa sirna tersapu oleh Badai Anggek, namun serasa mekar menghantar perjalananku menjalankan tugas gerejawi. Tidak ada pernerbangan yang langsung dari Yogyakarta ke Padang, maka harus transit di Bandara Soekarno Hatta. Menunggu sekitar 2 jam, pesawat menuju Padang sudah siap membawaku terbang tinggi. Kondisi penumpang penuh, sama seperti penumpang dari Yogyakarta ke Jakarta. Dari ratusan orang yang melakukan perjalanan, hanya beberapa orang yang memakai masker, akupun tidak. Kondisi sudah pulih paska Covid 19, banyak mobilitas orang dan dalam kondisi yang sehat. Prilaku yang berubah bagiku sendiri adalah kebiayaan sering cuci tangan dengan sabun. Perjalanan terasa nyaman dan singkat karena sepanjang jalan menikmati film. Sampai di Padang tengah hari, disambut dengan panasnya cuaca. Rasa panasnya seperti Semarang, membuatku harus lebih banyak minum. Peserta harus menginap semalam di Padang sebelum berangkat ke Tuapeijat. Panita memfasilitasi jika peserta ingin menginap di hotel yang sama, tentu dengan biaya sendiri. Tidak ada rumah makan Padang di Padang, makan malamku di warung lele yang penjualnya lancar berbahasa Minangkabau saat melayani pelanggan. Tapi kalau saling bercakap antara karyawan, mereka berbahasa jawa, dengan logat bahasa jawatimuran mereka saling bercanda. Jam 4 pagi, kamarku diketok-ketok, cukup kaget. Setelah aku buka, seorang satpam menyampaikan bahwa dia mendapat tugas untuk membangunkan semua peserta Sidang MPL PGI untuk segera bangun dan mempersiapakan diri. Dia datang lebih awal dari alarm hpku. Segera bersiap supaya tidak ketinggalan kapal. Semua tas, koper dikumpulkan dengan diberi tanda pita hijau untuk dibawa lebih dulu, sedangkan peserta dipersilahkan makan pagi. Dengan diangkut kendaraan kecil, peserta dibawa ke pelabuhan Padang. Peserta naik kapal cepat Mentawai Fast, perjalanan terasa panjang dan tidak kunjung sampai di darat. Disiapkan layar tv besar di dalam kapal yang ada 3 lantai ini. Sudah tiga film habis dan juga lagu-lagu Padang yang dilihat, tetap saja kapal masih malaju menerjang ombak. Semakin terasa lama perjalanan karena perut mual, kepala pusing dan sulit tidur dalam kondisi gelombang yang membuat tubuh terasa ‘kompal-kampul’. Kondisi cuaca cerah, tapi tubuh yang tidak biasa naik kapal dilaut membutuhkan waktu untuk adaptasi. Semoga ketika pulang ke Padang, tubuhnya semakin akrah dengan ‘kompal-kampul’nya kapal. Untuk menghilangkan kejenuhan, sempat juga naik ke atas kapal untuk melihat laut lepas, tapi ternyata tidak betah juga menghadapi angin yang kencang. Memang kalau sudah tidak nyaman jadi serba salah. Saya sendiri tahu alasan Sidang MPL PGI dilakukan di Mentawai. Ini sebagai simbol dukungan dan cara PGI mengangkat isu daerah 3T (terluar, terdepan dan tertinggal) supaya mereka mendapatkan perhatian dari Pemerintah Pusat dan juga membuka jaringan kerjasama antar sinode-sinode anggota PGI untuk memajuan saudara-saudara di daerah 3T. Saya kira semangat itulah yang masih membuat tubuhku bersedia kerjasama dengan perjalanan panjang di laut. Saya juga sempat lihat-lihat dan pegang-pegang pelampung warna kuning dibawah kursiku. Serta mencermati jalur pintu kalau harus segera meninggalkan kapal diwaktu emergency. Ini kewaspadaan yang dilatih dalam kewaspadaan dini dalam menghadapi bencana. Akhirnya lega juga setelah kakiku mengijak tanah di Bumi Sikerei. Sekitar jam 12.30 siang kami mendarat dan disambut oleh PJ Bupati, Eporus GKPM dan puluhan orang dengan baju warga merah dengan ornamen kuning, yang dihiasi dengan kalung serta daun-daun yang menjuntai dimanik-manik kalung. Para peserta juga disamput dengan penari adat oleh beberapa penari tua yang tubuhnya bertato tardisional. Sampai juga dan segera bersiap untuk ibadah pembukaan.
Setu, 27 Januari 2024 Minggu III Saksampunipun Epifani
Pangandharing Toret 13:1-5; Jabur 111; Mateus 8:28-9:1 MBRASTA PATRAP NASAR ING GESANG KITA “Pangajake nabi utawa wong olah inpen mau aja kokturuti…” (Pangandharing Toret 13:4) Umat Israel kaparingan pepenget ingkang cetha lan kenceng supados ngatos-atos sampun ngantos keblithuk lan ketarik kangge manembah dhateng para allah/dewa sesembahahanipun bangsa Kanaan. Umat Israel kadhawuhan namung mirengaken piwucal saking nabinipun Gusti Allah ingkang mesthi badhe mucalaken bab panembah lan pangabekti dhateng Gusti Allah piyambak. Pancen boten gampil menawi umat Israel kedah fokus namung dhateng Sang Yehuwah; awit saben dinten umat Israel wau gesang ing pasrawungan kaliyan suku-suku bangsa Kanaan. Pramila, umatipun Gusti Allah kedah nggadhahi disiplin rohani supados saged ngener namung dhumateng Sang Yehuwah, Gusti Allahipun. Menawi dhawuh menika kaetrapaken dhateng kita, kita ugi kedah nggadhahi disiplin rohani inggih punika manembah mangabekti kanthi setya namung dhateng Gust Yesus Kristus. Kita inggih ningali kawontenan ing kiwa-tengen kita, kathah tiyang ingkang taksih pitados dhateng dukun lan paranormal ingkang asring kasebat “tiyang pinter”. Kathah tiyang ingkang sami nyuwun pirsa lan nyuwun kekiyatan dhateng tiyang pinter wau. Menapa kita ugi ketarik dhateng praktek perdukunan kados menika? Jabur 62:9 ngengetaken, “He umat, tansah padha kumandela marang Panjenengane (Gusti Allah). Sarasaning atimu sokna ana ing ngarsane. Gusti Allah iku Pangaypman kita”. Lan ing Matius 11:28 kaserat, “He para wong kang kesayahen lan kamomotan, padha mrenea, Aku bakal gawe ayemmu”. Ugi ing I Petrus 5:7, “Sakabehing sumelangmu pasrahna marang Panjenengane (Sang Kristus) Sebab Panjenengane kang ngopeni kowe kabeh”. Ing sadaya kawontenan kita kedah tansah pitados lan mitadosaken gesang namung dhumateng Gusti Yesus, Allah kita ingkang sejati. Amin. |*SH
Yayasan TPK Indonesia Rayakan HUT ke-72
Yogyakarta, Yayasan Taman Pustaka Kristen (TPK) Indonesia merayakan ulang tahun ke-72 pada Kamis, 25 Januari 2024. Ibadah syukur ulang tahun yang sederhana namun khidmat ini dihadiri oleh seluruh organ yayasan (pembina, pengurus, dan pengawas) serta bapelsin XXIX GKJ.Atas keputusan tersebut, pada hari minggu terdekat dengan 25 Januari 2024 (28 Januari 2024) di seluruh GKJ diharapkan juga diselenggarakan dengan tema yang sama yaitu Literasi GKJ Mewujudkan Perdamaian. Ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Imanuel Geovaski sebagai liturgos dan pelayanan sabda oleh Pdt.Risang anggoro eliarso Ibadah syukur ini mengusung tema “Literasi GKJ Mewujudkan Perdamaian”. Tema ini dipilih untuk menandai diterimanya usulan Yayasan TPK dalam sidang sinode XXIX tentang hari lahir TPK menjadi hari literasi GKJ. Dalam khotbahnya, Pdt. Risang Anggoro Elliarso mengajak kita untuk memahami perbedaan antara sikap literalis dan literasi.Pengertian yang dangkal mengenai literasi sebagai kemampuan membaca dan menulis bisa membawa orang pada sikap literalis, yang memperlakukan teks secara harfiah (letterlijk). Sementara, secara lebih mendalam, literasi sejatinya adalah kemampuan untuk memahami, mengkritisi, serta menggumuli teks secara memadai.Ketika gereja mengembangkan literasi yang mendalam di antara para warganya, gereja bisa turut serta mewujudkan perdamaian.ujar Pdt. Risang dalam kotbahnya. Dalam sambutannya, Sekretaris Bapelsin XXIX, Pdt. Anugrah Kristian menyampaikan ucapan selamat ulang tahun untuk Yayasan TPK Indonesia. Ia juga menyampaikan terima kasih atas peran TPK dalam menyediakan kebutuhan bacaan dan peribadatan bagi gereja-gereja. “Kami berharap TPK dapat terus bertransformasi dalam era digital,” kata Pdt. Anugrah. “Sehingga karya dan pelayanannya dapat diteruskan dijaman yang terus berubah.” Pada akhir ibadah syukur, diadakan persembahan khusus untuk Yayasan TPK dalam mengembangkan literasi GKJ ke depan. Persembahan ini akan digunakan untuk meningkatkan kualitas layanan TPK, seperti pengembangan perpustakaan digital, penerbitan buku-buku Kristen, dan pelatihan literasi bagi umat Kristen.
Pembiakan Klasis Klaten Timur menjadi Klasis Klaten Timur dan Klasis Klaten Tengah.
Klaten, Klasis Klaten Timur, yang semula terdiri dari 14 gereja, kini telah berkembang menjadi dua klasis, yaitu Klasis Klaten Timur dan Klasis Klaten Tengah. Pembiakan klasis ini telah disetujui dalam sidang Sinode XXIX dan dilaksanakan pada hari Minggu, 14 Januari 2024. Ibadah pembiakan klasis ini dihadiri oleh perwakilan gereja-gereja anggota klasis, utusan Klasis tetangga, dan Visitator Sinode XXIX, Pdt. Anugrah Kristian. Dalam ibadah tersebut, Pdt. Anugrah Kristian menyampaikan rasa syukur dan harapannya bahwa pembiakan klasis ini akan menjadikan karya pelayanan gereja-gereja di wilayah Klaten dapat lebih optimal dikerjakan. Pembiakan klasis ini telah direncanakan dan dipersiapkan dalam beberapa tahun belakangan. Dengan adanya pembiakan klasis ini, diharapkan pelayanan gereja-gereja di wilayah Klaten dapat lebih optimal dan berdampak bagi masyarakat luas.
Jemuwah, 26 Januari 2024 Minggu III Saksampunipun Epifani
Pangandharing Toret 12:28-32; Jabur 111; Wahyu 2:12-17 KATIMBALAN MANEMBAH DHATENG ALLAH “Gatekna temenan apa kang dakprentahake marang kowe, supaya kowe saanak-putumu ing sapungkurmu padha ginanjara slamet ing salawas-lawase, marga kowe nglakoni apa kang becik lan bener ana ing paningale Pangeran Yehuwah, Gusti Allahmu” (Pangandharing Toret 12:28) Sang Yehuwah sampun mitulungi umat Israel, kaluwaran saking tanah pangawulan. Samangke umat Israel sampun dados bangsa mardhika lan badhe tansah kajagi dening Gusti Allah. Umat Israel kedah netepi adegipun minangka kagunganipun Gusti sarana tansah netepi dhawuhipun Sang Yehuwah. Gusti Allah maringi angger-angger sedasa prekawis ingkang badhe nata gesanging umatipun. Ing angger-angger 1 lan 2. Gusti Allah maringi pepaken: “Sira aja nduweni allah liyane ana ing ngarsaNingsun” lan “Sira aja gawe reca utawa tetironing apa wae….sira aja sujud utawa ngabekti marang iku…” Sarana pepaken menika cetha sanget bilih Gusti Allah ngersakaken supados umatipun wau tansah manembah dhumateng Sang Yehuwah, Allahipun. Kala semanten, umat Israel nembe badhe lumebet ing tanah Kanaan. Umat Israel badhe pitepangan kaliyan bangsa Kanaan lajeng lan saged kemawon tumut manembah dhateng allah-allah utawi dewa-dewanipun (ayat 30). Mila, umatipun Gusti kedah fokus namung mandeng lan manembah dhateng Gusti Allah Sang Yehuwah wau. Prekawis menika ugi kaetrapaken dhateng kita umatipun Allah ing jaman samangke. Kita sampun katebus saking pangawulaning dosa lan kadurakan lumantar pakaryanipun Sang Kristus. Ingkang menika ateges kita sampun dados umat kagunagnipun Gusti Allah. Pramila manah lan-pangangen-angen kita ugi namung kedah tumuju dhateng Gusti kemawon. Kita ugi kedah nebihi brahala-brahala arupi menapa kemawon kadosdene reca, sela lan wit ageng, pusaka-pusaka, punapa dene arta, kekiyatan, kepinteran lan sapiturutipun. Kita boten kepareng memuja brahala-brahala punika. Gesang kita sawetahipun kedah tumuju dhumateng Gusti Allah. Kita katimbalan tansah ngabekti dan netepi dhawuh-dhawuhipun Gusti ing sauruting gesang. Amin. |*SH
Kemis 25 Januari 2024 Minggu III Saksampunipun Epifani
Pangandharing Toret 3:23-29; Jabur 111; Rum 9:6-18 PAKARYANING ALLAH IKU AGUNG LAN MULYA “Pakaryane Sang Yehuwah iku agung, patut dititi-priksa dening sakehing wong kang kasengsem. Pakaryane iku agung lan mulya, tuwin kaadilane tetep ing salawas-lawase!” (Jabur 111:2,3) Umatipun Gusti Allah mesthi saged mangertosi lan nyengkuyung pangakenipun Jurumasmur ing 111:2-3 menika. Pakaryanipun Gusti Allah inggih donya saisinipun menika ageng, wiyar lan agung sanget. Kita boten saged mbayangaken sepinten agenging alam donya menika sanadyan mawi ngginakaken teknologi modern pisan. Kita namung saged ningali kanthi eram lan ngungun sanget. Menawi kita ningali sesawangan utawi pemandhangan ingkang asri lan endah ing pareden, manah kita saged dados lega, remen lan tentrem. Alam donya lan saisinipun menika ugi dipun pranata kanthi sae. Wit-witan lan tanem-taneman saged tuwuh dados ngrembuyung lan dados ageng kanthi tatanan ingkang cetha. Mekaten ugi sato kewan ing daratan, ing akasa menapa dene ing toya, dipunrimati dening Gusti Allah, boten wonten ingkang kecingkrangan. Mekaten ugi manungsa tuwuh ing lingkunganing suku lan bangsa kathi tatanan ingkang cetha. Gesangipun manungsa sacara biologis menika tumata sanget. Gesangipun manungsa ugi kaparingan pranatan-pranatan ingkang sae. Ing salajengipun manungsa kasagedaken mranata lan mbudidaya kasaenaning gesangipun sedaya titah. Lah menika sedaya mujudaken pakaryan saking Gusti Allah ingkang agung lan mulya. Kejawi Gusti Allah menika mranata lan ngreksa gesangipun sedaya titah wau, Gusti Allah ugi kagungan sipat-sipat ingkang mulya kados ingkang dipun pratelakaken dening Jurumasmur: “Pangeran Yehuwah iku asih-mirma sarta welasan” (ayat 4b), “Asmane iku suci lan nggegirisi” (ayat 9). Sarana kamulyanipun wau Gusti Allah mranata lan ngreksa sedaya titahipun ugi kanthi mulya. Pramila ayat 11 mratelakaken prekawis ingkang sae lan prayogi kita tindakaken: “Pangabekti marang Pangeran Yehuwah iku wiwitaning kawicaksanan. Sarupaning wong kang nglakoni iku padha duwe budi kang padhang. Pangalembana marang Gusti Allah iku langgeng ing salawase!”. Gusti amberkahi. Amin. |*SH
Diskusi Pesta Demokrasi di Klasis Gunungkidul
“Apakah ada yang menyimpan nomor anggota DPR?” Pertanyaan ini disampaikan oleh Pdt. Christiana Riyadi kepada peserta diskusi yang hadir. “Bukan untuk meminta sesuatu namun untuk menyampaikan sesuatu!” tambahnya. Ini merupakan gambaran petikan dari diskusi menyambut Pemilu 2024 bertema “Membangun Karakter Jemaat menjadi Pemilih yang Ideal dalam Konteks Demokrasi.” yang diadakan Bapelklas LV GKJ Gunungkidul pada Rabu, 24 Januari 2023 pukul 14.00-16.30 WIB Kantor Klasis GKJ Gunungkidul. Hal ini merupakan salah satu wujud pelayanan bidang sosial, politik dan hukum bagi warga gereja sehubungan dengan pelaksanaan pesta demokrasi di Indonesia.Kegiatan yang dihadiri 40 orang dari unsur majelis dan pemuda ini dimulai dengan doa dan pengantar dari Ketua Bidang Sospolhum Bapelklas LV GKJ Gunungkidul Pnt. Yohanes Suryo Wibowo, S.H., M.Kn. Selanjutnya penyampaian paparan awal oleh Pdt. Christiana Riyadi, SIP, S.Th. yang membawakan materi tentang “Pengejawantahan Iman Kristen dalam Menentukan Pilihan di Alam Demokrasi.” Pendeta GKJ Kemadang ini menyampaikan dasar-dasar ajaran dengan mengutip Pokok-Pokok Ajaran Gereja Kristen Jawa yang menguraikan peran orang percaya dalam kehidupan bernegara mendasar pada jati diri setiap orang percaya yang berjabatan imamat-nabiah-rajawi (I Ptr. 2:9-10). Dalam mengambil bagian di tengah-tengah kehidupan bernegara tersebut orang percaya berpegang pada tiga dasar pemahaman, yaitu: 1). Sebagai imam, orang percaya melayani kehidupan bernegara di dalam kebersamaan (solidaritas) nasional, yaitu tercapainya tujuan negara adalah kepentingan, kewajiban dan tanggung jawab bersama. 2). Sebagai raja, orang percaya berpartisipasi (ambil bagian) di dalam menentukan kebijakan penyelenggaraan negara. 3). Sebagai nabi, orang percaya menegur, memperingatkan atau malah menentang segala ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan penghinaan terhadap martabat manusia. Ia juga meyampaikan pengertian partisipasi politik adalah kegiatan seseorang atau kelompok orang untuk ikut serta secara aktif dalam kehidupan politik, antara lain dengan jalan memilih pimpinan negara dan secara langsung atau tidak langsung memengaruhi kebijakan pemerintah (public policy). “Sangat tidak elok jika orang percaya golput!” tegasnya. Ia menegaskan bahwa gereja memiliki kekuatan meningkatkan kesadaran umat tentang pentingnya pilih pemimpin yang berkarakter baik, integritas, dan komitmen kandidat terhadap pelayanan kepentingan publik. Beberapa catatan penting terkait pemilu, dibagikannya peserta khususnya bagi warga gereja yang ikut dalam kontestasi politik, bahwa perlu mengingat bahwa politik bukan lahan untuk meraih kekuasaan tetapi sarana untuk mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan umum bagi seluruh rakyat Indonesia. Sedangkan bagi warga pemilih jangan pilih pada calon dan partai politik yang mengejar kekuasaan sebagai tujuan tetapi dukung dan pilih mereka yang menggunakan kekuasaan sebagai alat untuk melayani pencapaian kesejahteraan rakyat. Pemateri kedua oleh Bp. Lasarus Arintoko, S.H, MM salah satu anggota Dewan Pakar DPRD Kabupaten Gunungkidul. Ia menyampaikan materi tentang “Pemimpin yang Ideal dalam Konteks DIY dan Gunungkidul.” Salah satu warga GKJ Susukan ini menyampaikan terkait tentang sejarah keistimewaan DIY, kesulitan kepemimpinan monarkhi dan demokrasi, dan mengingatkan bagian warga gereja dalam peran memilih pemimpin khususnya bagi Gunungkidul. “Perlu orang baik terjun di dunia politik…” pungkasnya. Setelah berlangsung dua jam, kegiatan ini diakhiri dengan doa oleh Ketua Bapelklas LV GKJ Gunungkidul, Pdt. Stefanus Iwan Listiyantoro.
Rebo, 24 Januari 2024 Minggu III Saksampunipun Epifani
Wulang Bebasan 8:1-21; Jabur 46; Markus 3:13-19a GUSTI KAMULYAKAKEN “Menenga lan ngretia, manawa Ingsun iku Allah! Ingsun kaluhurake ana ing tengahing para bangsa, linuhurake ana ing bumi!” (Jabur 46:11b) Gusti Allah kita menika ingkang nitahaken donya lan saisinipun sedaya. Gusti Allah ugi nitahaken manungsa ingkang sampun bebranahan ngantos dados kathah sanget cacahipun. Gusti Allah menika ngasta pangwasa tumraping para bangsa ing donya menika. Boten wonten bangsa satunggal kemawon ingkang uwal saking pangwaosipun Gusti Allah. Pancen kita saged ningali kathah bangsa utawi suku bangsa ingkang boten tepang dhateng Gusti Allah. Bangsa-bangsa wau sami manembah brahala. Ewa semanten sejatosipun bangsa-bangsa wau sami saged ningali pakaryaning Allah kados kanyatan ing alam donya menika. Kadosta Srengenge, wulan, lintang, redi-redi, seganten, sela ageng, wit-witan ageng lan sakpiturutipun. Emanipun tiyang-tiyang wau malah lajeng nyembah kekiyataning alam menika. Bangsa-bangsa ugi sami damel rerekan ingkang awujud reca ingkang lajeng kasembah. Bab menika sekeling penggalihipun Gusti Allah. Gusti Allah paring dhawuh supados manungsa sami manembah namung dhateng Gusti Allah kemawon. Umatipun Gusti nggadhahi tugas martosaken kawilujengan saking Gusti Allah, kados ingkang sineat wonten ing Yesaya 42:6 “Ingsun iki Yehuwah, wus nimbali sira supaya ngundhangake kaslametan, wus ngasta tanganira; Ingsun wus ndhapuk sira lan maringake sira dadi prajanjian tumrap umat manungsa, dadi pepadhang tumrap para bangsa”. Lumantar umat Israel menika Gusti Allah ngersakaken supados para bangsa lan suku bangsa sami manembah dhateng Gusti Allah. Ing jaman modern lumantar pangundhanging Injil Gusti Allah ing Gusti Yesus Kristus sampun kaundhangaken dhateng kathah bangsa ing bumi menika. Bangsa-bangsa ageng ing Eropa lan Amerika, mekaten ugi ing Asia , Australia lan ing Afrika sampun sami mireng bab Injiling Sang Kristus. Bab menika taksih kedah kalajengaken, awit taksih kathah tiyang saking bangsa-bangsa lan suku-suku bangsa ingkang dereng tepang kaliyan Gusti Allah ing Sang Kristus Yesus.|*SH
Senen, 22 Januari 2024 Minggu III Saksampunipun Epifani
Purwaning Dumadi 12:1-9; Jabur 46; I Korinta 7:17-24 NDHEREK GUSTI YESUS “Sateruse, saben wong iku lestari tumindaka kaya kang wus katetepake dening Gusti, lan ing sajroning kaanan kaya ing nalikane katimbalan dening Gusti Allah …” (I Korinta 7:17) Timbalanipun Gusti Yesus dhateng kita menika boten ndadosaken kita kedah nilar padamelan kita. Dados angger padamelan kita lan kahanan kita nalika katimbalan pitados dening Gusti menika sae lan leres, boten perlu nilaraken padamelan menika lajeng sami dados Pandita, Penginjil utawi Guru Agami Kristen. Kenging kemawon menawi pancen kepengin ngabdekaken gesang dados para pelados menika. Ananging boten kedah mekaten. Ingkang suwau dados tiyang bengkel inggih saged tetep dados tukang bengkel. Ingkang dados tukang becak inggih saged tetep dados tukang besak. Ingkang dados pedagang utawi bakulan inggih saged tetep dados pedagang lan tetep bakulan. Ingkang penting menika wonten ewah-ewahan ing manah lan sikep gesangipun. Ing I Korinta 12:4-11 wonten pangandika bab peparing lan kanugrahan warni-warni saking Gusti. Bab menika ugi saged katerapaken ing salebeting gesang padintenan. Gusti Allah ugi sampun paring padamelan marupi-rupi dhateng saben tiyang. Peparing menika kedah kita aosi, awit sedaya padamelan menika sae, boten wonten pedamelan ingkang asor lan remeh. Ingkang kedah kita sigkiri menika pandamel awon lan dosa. Gusti Allah ugi ngersakaken para kagunganipun nggadhahi kesagedan utawi talenta warni-warni, matemah pakaryanipun Pangeran saged kaetrapaken ing babagan utawi ligkungan warni-warni. Ingkang perlu, ing padamelan lan lumantar pedamelan kita piyambak-piyambak wau Injil saged kaundhangaken. Lumantar profesi guru upamenipun, saged kaundhangaken Asmanipun Gusti Yesus. Paling boten sikep lan patrap kados dipun wucalaken dening Gusti Yesus saged dipun ketingalaken ngantos sami kepranan amargi sumerep pandamel sae wau lan sami kepengin mangertos bab piwucal saking Gusti Yesus Kristus. Mekaten ugi lumantar profesi utawi padamelan sanesipun kita saged leladi lan ngluhuraken asmanipun Gusti. |*SH





