Laporan MPH PGI dituangkan dalam laporan setebal 198 halaman, semua didistribusikan dalam bentuk softfile. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mendukung pelestarian lingkungan dengan cara paperless. Bantuk komitmen lain dalam upaya mendukung pelastarian lingkungan adalah tidak ada penggunaan air minum kemasan, dus kertas untuk makanan. Peserta sudah diminta membawa tumbler sendiri dari rumah. Akupun membawa tubmler dari rumah, tetapi sesampainya di tempat persidangan ternyata panitia menyediakan tumbler. Semoga tidak timbul sampah baru berupa tumbler. Prilaku tanpa plastik dan kertas makan dapat dibiasakan di sidang-sidang klasis dan Sinode GKJ. Kebiasaan baik memang kadang perlu dipaksakan saat memulainya. Laporan kegiatan MPH PGI mengacu pada tema Sidang Raya dan mandat Sidang MPL PGI tahun lalu. Delapan isu strategis tersebut adalah : 1) Berkembangnya dialog dan aksi bersama gereja lokal dalam jejaring oikumenenis. 2) Bertumbuhkembangnya formasi oikumenis gereja berwawaskan kebangsaan. 3) Terdata, tertata dan berkembangya potensi Gereja-gereja di Indonesia. 4) Terkelolanya tantangan dan peluang revolusi teknologi dan media sosial. 5) Terbangunnya perjuangan untuk keadilan sosial dan kelestarian ekologi serta kemandirian ekonomi warga gereja di Indonesia. 6) Membentu Komisi Hukum Gereja. 7) Tertatalayaninya perlindungan hukum dan HAM bagi gereja dan warga gereja. 8) Berkembangnya diskursus teologis pemahaman bersama iman Kristen (PBIK). Laporan keuangan dipaparkan oleh bendahara dengan kondisi keuangan yang positif, hal ini tentu menjadi tanda atas berkat Tuhan. Ada catatan dari badan pengawas yang menyatakan bahwa serapan dana anggaran program sangat kecil. Pertanyaan yang muncul adalah apakah program-program tidak berjalan ? Pdt Gomar sebagai Ketua Umum PGI menjelaskan bahwa serapan anggaran program kerja yang kecil disebabkan karena partisipasi gereja, lembaga mitra dan pemerintah sangat tinggi dalam menjalankan program kerja. Program kerja dapat dilaksanakan dengan pembiayaan dari pihak mitra. Secara umum, laporan MPH PGI dapat diterima oleh peserta sidang. Dalam rangka untuk memetakan tantangan dan juga menggali afirmatif action dari gereja-gereja anggota PGI, dilakukan diskusi berdasarkan wilayah di Indonesia. Majelis Persidangan yang salah satunya adalah Pdt Eunike (Sinode GKJ) menyampaikan tentang tujuh pembagian wilayah. GKJ berada pada kelompok Jawa – Banten. Saya sendiri didapuk menjadi sekretaris untuk mendampingi Pdt Margi dari PGI W Jawa Barat sebagai ketua. Ada dua isu dari empat isu yang bisa diselesaikan dalam diskusi kelompok wilayah. Isu yang pertama adalah sprititualitas keluarga dengan beberapa rekomendasi : 1) Era digital sebagai ‘musuh dan peluang / ruang baru’. 2) Pengembangan Ekklesia Domestika dan Ekklesia Digital. 3) Spiritualitas Keluarga Pendeta (Mental Health). 4) Literasi digital. 5) Parenting. 6. Intergenerasional. Isu kedua adalah gerekan oikumene dengan beberapa rekomendasi : 1) Yang sering menyatukan adalah ‘tantangan bersama’, maka kita perlu melihat hal-hal yang menjadi tantangan bersama. 2) Perjumpaan yang berbagi ‘Best Practice and Lesson Learned’ masing-masing gereja sehingga bisa saling menginspirasi. 3) Mendukung tuan-puan MPL PGI adalah daerah 3T (terluar, tertingal, terdepan) dengan semangat memberikan perhatian besar kepada pergumulan gereja yang menjadi Tuan-Puan MPL PGI. Sehingga muncul kerjasama kongrit antar gereja. 4) Setiap daerah memiliki kemampuan resilience sehinga yang dibutuhkan adalah tranformasi dan kolaborasi. 5) Berjalan bersama dengan semangat ‘berbagi roti’. 6) Krisis ekologi hanya bisa diselesaikan dengan pergerakan nyata dari Antroposentris ke Kosmosentris.
Senen 29 Januari 2024 Minggu IV Saksampunipun Epifani
Wilangan 22:1-21; Jabur 35:1-10; Lelakone Para Rasul 21:17-26 PITULUNGANIPUN GUSTI ALLAH “Dhawuhe Gusti Allah marang Bileam: “Sira aja melu wong-wong iku; bangsa iku aja sira ipat-ipati, marga wus kanggonan berkah” (Wilangan 22:12) Umat Israel menika satunggaling bangsa ingkang dados umat pepilihanipun Gusti Allah. Israel pinilih dening Gusti amargi Gusti karsa netepi prasetyanipun dhateng rama Abraham bilih tedhak turunipun badhe binerkahan lan dados berkah. Bangsa Israel ugi nampi prasetyan kados prasetyanipun Gusti Allah dhateng rama Abraham: Sok sintena ingkang mbekahi dhateng Israel ugi badhe dipun berkahi dening Gusti Allah. Kosok wangsulipun sok sintena ingkang nglawan lab badhe ngipat-ipati Israel ugi badhe kalawan lan dipun ipat-ipati dening Gusti Allah. Waosan kita nyariyosaken bab Balak saking krajan Moab nimbali Jurutenung ingkang kawentar inggih punika Bileam bin Beor. Tujuanipun supados Bileam wau nenung srana ngipat-ipati bangsa Israel nalika sami lumampah badhe nglangkungi tlatah Moab. Utusanipun prabu Balak ngantos rambah kaping kalih awit ingkang sepisan Bileam boten purun nuruti kekajenganipun Balak. Jurutenung Bileam menika elokipun tansah nyuwun pitedahipun Gusti Allah bab menapa ingkang kedah katindakaken. Ing ngriki kita ningali bilih Gusti Allah menika panguwaosipun nglangkungi wates-watesing bangsa, ngantos ingatasipun Bileam bin Beor ing tanah Persia kemawon Gusti ugi kagungan panguwaos, lan Bileam inggih mbangun miturut dhateng Gusti Allah. Nyatanipun ing rambahan kaping kalih Bileam tumut ing tanah Moab netepi dhawuhipun Gusti Allah. Bileam mberkahi bangsa Israel kados karsanipun Gusti sinaosa dipun iming-imingi upah arupi raja brana ingkang kathah dening prabu Balak. Cariyos menika ngiyataken iman kapitadosan kita bilih minangka umat kagunganipun Gusti, kita mesthi badhe kareksa lan kaayoman dening Gusti Allah. Rancangan awon ingkang badhe tumuju dhateng kita inggih badhe dipun kuwaosi dening Gusti Allah lan badhe kagantos dados berkah kangge kita. Pinuji asmanipun Gusti. Amin . |*SH
Sidang Klasis Blora-BojonegoroBerjalan Lancar
Lasem, Sidang Gereja-Gereja Kristen Jawa (GKJ) Klasis Blora-Bojonegoro 83 yang dilaksanakan di GKJ Lasem pada Jumat, 26 Januari 2024, berjalan lancar. Sidang yang mengambil tema “Cinta kasih Kristus menggerakkan GKJ Mengupayakan Pemulihan dan keutuhan ciptaan” ini diikuti oleh gereja anggota GKJ Klasis Blora-Bojonegoro. Dimulai dgn ibadah pembukaan jam 08.45 dipimpin pdt. Nindya Iswara. Dalam sidang tersebut, terpilihlah moderamen sebagai berikut: Ketua 1: Pnt. Ngarit H.S.Ketua 2: Pdt. Eri RustiantoSekretaris 1: Pnt. SudiartoSekretaris 2: Pnt. Yuli Sudarmanto Sidang membahas berbagai pergumulan yang dihadapi oleh gereja-gereja anggota GKJ Klasis Blora-Bojonegoro, di antaranya kekurangan dana, tidak berjalannya Credit Union Klasis dengan baik, dan pemberdayaan sekolah-sekolah Kristen. Terkait dengan pergumulan tersebut perlu dilakukan pendampingan intens oleh Bapelklas dan dibuat MoU atau akta perjanjian kerjasama dengan yayasan/bebadan klasis, khususnya YPKC dengan YPMK. Selain membahas pergumulan-pergumulan tersebut, sidang juga menetapkan Bapelklas, Bawasklas, dan bebadan klasis bloboj 83, yakni: Bapelklas:Ketua: Pdt. Lilik KristiawanSekretaris: Pdt. Eri RustiantoBendahara: Dkn.Istina Setyolengkap dengan bidang-bidang pelayananBawasklas:Ketua: Pdt. JuliSekretaris: Pdt. Sri HandoyoAnggota: Pnt. Yuli S. Sidang klasis ditutup dengan ibadah penutup dan peneguhan Bapelklas 83, dipimpin oleh Pdt. Lilik K. Jam 18.00 kegiatan sidang berakhir dengan damai sejahtera. Utusan visitator Sinode dalam sidang tersebut adalah Pdt. Yemima WN dan Pdt. T. Setijanto.
Pemaparan Pokok Pikiran Tema Sidang MPL PGI
Sidang MPL PGI di Tuapeijat menghadirkan tiga pembicara untuk mendalami tema. Tema : Aku adalah yang awal dan yang akhir. Pikiran Pokok : Spiritualitas keugaharian : Membangun kehidupan yang demokratis dan berkeadilan serta politik yang bermoral dan beretika. 1. Romo A. Setyo Wibowo. Spirit Keugaharian. Kodisisi kita : korupsi, biaya caleg mahal. Masyarakat juga serakah : nyontek, plagiarisme, melawan arah. Keserakahan ada dimana-mana. Obatnya adalah KEUGAHARIAN. Untuk mengatasi serakah, uang, kebanggaan dan kekuasaan. Keugahariaan hanya bisa dibangun dengan pendidikan yang berupa keteladanan. Ini adalah pendekatan INDIVIDUAL. Keugaharian adalah kontrol diri. Kita perlu belajar dari filsuf Platon. Pemikiran Platon memberikan penjelasan bahwa manusia terdiri dari tiga bagian : 1) Desire. Didalamnya ada nafsu. 2) Sprit. Didalamnya ada harga diri. 3) Reason. Didalamnya ada rasio. Dalam desire terdapat Epithumia yang berisi nafsu makan, minum dan seks yang berujung dan inti dari semuanya adalah uang. Ini sulit dibatasi secara kualitatif dan kwantitatif. Mengumpulkan uang akan terus terjadi untuk memenuhi imajinasi kebutuhan. Ini tidak rasional. Sehingga perlu dikendalikan oleh rasio dan berani menyatakan cukup. Solusi dari semua itu adalah pendidikan. Karena desire berada dalam ranah irasional maka pendidikan dilakukan pada tahap pra-rasional. Pendidikan yang dilakukan untuk anak-anak dibawah umur 10 tahun. Dilakukan dengan cara pengembangan seni, cerita, mitos, puisi, musik. Anak-anak akan melakukan seperti yang diteladankan orang tua dan orang-orang disekitarnya. Dalam gereja ada peluang untuk membangun pendidikan pra-rasional dengan cerita yang didasarkan pada teologi yang lurus (teologi lurus itu berisi bahwa Tuhan itu baik), disertai dengan pengenalam musik yang bagus dan pengembangan seni. 2. Pdt.Jimmy Sormin. Fakta kehidupan kita adalah konvergensi. Banyak variabel yang bertemu maka hal-hal baru akan tercipta. Ini saling bertukar dan saling menyatu. Ini yang terjadi pada kehidupan kita sebagai gereja dan bangsa. Pintu reformasi berupa semangat : anti kkn, otonomi daerah, kebebasan berpendapat, demokratis (parpol bertambah), Kemerdekaan pers. Ini sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Fakta yang perlu kita sadari adalah ketidakadilan kkologis. Prinsip 3 Dasar Keugaharian : 1) Berani katakan cukup. 2) Berbagi supaya yang lain cukup. 3) Advokasi sistem supaya semua ciptaan merasakan kecukupan. Peran gereja adalah moral dan etika dalam kehidupan. Menjadi pertanyaan reflektif bagi kita adalah apakah gereja berprilaku dengan standar moral yang baik dan hidup beretika ? Bagaimana gereja menjalankan mandat untuk terus mengawal kehidupan berbangsa dengan standar moral yang baik dan hidup secara etis. 3. Ibu Rozidelano Putri Hanida. Dosen Univesritas Airlanga Padang. Ada tiga bentuk pemerintahan dengan masing-maisng bahayanya : 1) Monarki bisa berujung Tirani. 2) Aristrokrasi bisa berujung Oligarkhi. 3) Demokrasi bisa berujung pada Anarkhi. Kalau pilihannya adalah demokrasi maka siapapun yang terpilih adalah orang yang bisa mewujudkan cita-cita dan harapan bersama. Fakta di Indonesia, indek domokrasi berada pada rata-rata angka 6, ini artinya kita masih berada pada kondisi pura-pura demokratis. Peran politik warga negara tidak boleh hanya dimengerti dengan satu kali dalam lima tahun. Tetapi harus tetap terlibat dalam perencanaan pembangunan, penyampaian aspirasi dan mengawal secara aktif terhadap pemerintah. Hanya saja ini sulit terjadi karena praktek politik uang. Itu seperti transaksi yang sudah dijual lepas, sehingga orang yang dipilih sudah merasa membayar suara dan tidak ada tanggungjawab atas mandat yang diterima. Dari sisi kehidupan bersama di Indonesia, kita adalah masyarakat inklusi tetapi kita sering membangun dan mendengar narasi pemisahan dan mental mayoritas-minoritas. Beliau mencontohkan perasaannya sebagai seorang perempuan yang berhijab di tengah-tengah pimpinan gereja se Indonesia. Kita perlu membangun sikap untuk saling menerima. Ibu Ozi menyampaikan kata ’saling berterima’ dalam logat Minangkabau. Gereja harus dibangun dalam semangat saling menerima dan menghidupan keragaman.
Sidang Klasis Salatiga Bagian Selatan XII Berjalan Lancar
Sidang Klasis Salatiga Bagian Selatan XII Berjalan Lancar Salatiga, Sidang Klasis Salatiga Bagian Selatan XII yang dilaksanakan pada Sabtu, 27 Januari 2024 di GKJ Menara Kasih Salatiga berjalan dengan lancar. Sidang diikuti oleh utusan 11 gereja di klasis tersebut, juga dihadiri oleh perwakilan klasis Salatiga bagian Utara yaitu Pdt Wiji Astuti, Klasis Boyolali yaitu Pdt Jaryono , sebagai visitator Sinode yang hadir adalah Pdt Nelwan dan Pdt. Andreas Oktavianto. Tema sidang yang diangkat adalah “Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula KRISTUS”. Tema ini diambil untuk mengingatkan para anggota gereja untuk selalu bersatu dan saling menopang satu sama lain. Salah satu keputusan persidangan adalah pemilihan personalia Bapelklas Salatiga Bagian Selatan. Adapun personalia yang terpilih adalah sebagai berikut: Ketua: Pdt. Sari Frihono (GKJ Menara Kasih Salatiga)Sekretaris: Pdt. Kurniawan (GKJ Argomulyo Salatiga)Bendahara: Pnt. Joko Sulistyo (GKJ Salatiga Selatan) Pemilihan personalia Bapelklas ini dilakukan secara demokratis dengan melibatkan semua utusan gereja. Para utusan gereja memberikan suaranya secara tertutup. Persidangan juga membahas berbagai hal terkait dengan pelayanan gereja di klasis Salatiga bagian Selatan. Salah satu hal yang dibahas adalah rencana kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh klasis tersebut di tahun 2024. Pimpinan sidang, Pdt. Sari Frihono, menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah terlibat dalam pelaksanaan sidang tersebut. Ia berharap agar sidang ini dapat menjadi momentum bagi semua anggota gereja di klasis Salatiga bagian Selatan untuk semakin bersatu dan saling menopang satu sama lain.
Ahad, 28 Januari 2024 Minggu IV Saksampunipun Epifani
P. Toret 18:15-20; Jabur 111; I Korinta 8:1-13; Mateus 1:21-28 GUSTI YESUS PUNIKA UTUSANING ALLAH “… sarta Gusti iya mung siji, yaitu Gusti Yesus Kristus, kang njalari anane samubarang lan kang njalari kita padha urip” (I Korinta 8:6) Gusti Yesus menika kagungan kalenggahan minanka Nabi, Imam lan Ratu. Kalenggahan tiga menika kaagem lan kasandhang dening Gusti Yesus Kristus gegandhengan kaliyan tugasipun jumeneng dados Juruwilujenging jagad. Sarana tigang kalenggahan menika Gusti Yesus saged kanthi premati milujengaken manungsa saking dosa lan kadurakanipun, lajeng karukunaken malih kaliyan Gusti Allah. Ing ngriki badhe kita rembag salah satunggaling kalenggahanipun inggih punika minangka Nabi. Nabi menika utusanipun Gusti Allah ingkang mbabaraken Sabdanipun Gusti Allah dhateng manungsa. Mekaten ugi Gusti Yesus minangka Nabi. Nanging ing ngriki Gusti Yesus Kristus menika kagungan keistimewaan ingkang mbedakaken kaliyan para nabi sanesipun. Kados ingkang kelampahan nalika Gusti Yesus memucal ing papan pangibadah ing Kapernaum. Gusti Yesus memucal tiyang kathah ngantos sami kaeraman lan ngungun, awit anggenipun memucal wau kanthi panguwaos, boten kados para ahli Toret. Gusti Yesus menika boten namung martosaken pangandikanipun Gusti Allah nanging Panjenenganipun menika Sabdanipun Allah piyambak. Ing Injil Yokhanan 1:1 kapratelakaken bilih “Ing kalapurwa, Sang Sabda iku ana, dene Sang Sabda iku nunggil karo Gusti Allah, sarta Sang Sabda iku Gusti Allah.” Ing ayat 14 kapratelakaken “Anadene Sang Sabda wus dadi daging sarta makuwon ana ing antara kita”. Lah menika Gusti Yesus Kristus. Dados Gusti Yesus Kristus menika jumeneng Nabi boten namung ngasta Sabdanipun Allah ingkang kedah kawartosaken dhateng manungsa, nanging Gusti Yesus Kristus menika Sang Sabdanipun Gusti Allah piyambak. Rikala semanten Gusti Yesus ugi ngetingalaken panguwaosipun nalika Panjenenganipun nundhung dhemit saking satunggaling tiyang ing griya pangibadah wau. Kedadosan menika ngetingalaken bilih Gusti Yesus Kristus punika kagungan panguwaos. Panjenenganipun punika Sang Sabda ingkang sejati inggih Gusti Allah piyambak. Amin. |*SH
Ibadah Pembukaan dan Sambutan-Sambutan Sidang MPL PGI
Pdt Binsar Parlindungan Sababalat, S.Th sebagai Eporus GKPM memimpin ibadah pembukaan Sidang MPL PGI. Ibadah menggunakan liturgi GKPM dengan lagu-lagu yang dinyanyikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Mentawai. Sepanjang ibadah diwarnai dua kali mati lampu dan ada sedikit permasalahan di proyektor. Menariknya adalah nyanyian tetap dinyanyikan dengan lantang secara acapella. Demikian juga saat nyanyian Indonesia Raya juga dinyanyikan dengan lebih keras tanpa musik yang mengalami gangguan. Setelah ibadah selesai, dilanjutkan sambutan-sambutan dari berbagai pihak. Ada suatu pelajaran penting bagi saya tentang humor seorang pemimpin. Ceritanya ketika pembawa acara menyampaikan bahwa sambutan yang pertama adalah perwakilan dari Kementrian Dalam Negeri. Yang dipanggil tidak kunjung naik ke podium, peserta mulai sedikit resah. Akhirnya pembawa acara menyampaikan maaf dan meralat bahwa yang memberikan sambutan adalah ketua panitia Sidang MPL PGI tahun 2024. Eporus Binsar menyampaikan sambutan sebagai ketua panitia, beliau berkata : “Maaf atas kesalahan, karena memang kesalahan harus lebih dulu, baru kemudian kebenaran”. Kalimat itu mengundang tawa dan memecahkan kekakuan yang timbul karena kesalahan pembawa acara. Inilah pentingnya humor untuk memecahkan kebekuan. Nelson Mandela mengatakan bahwa humor adalah cara terbaik untuk mencairkan ketegangan dan membangun hubunan dengan orang lain. John F. Kennedy menyampaikan hubungan antara humor dan kepemimpinan. Dia menyampaikan : “Seorang pemimpin yang tidak bisa tertawa pada dirinya sendiri tidak bisa memimpin orang lain’. Isi sambutan-sambutan sangat menginspirasi, seperti catatan dibawah ini :
Dari Yogyakarta ke Tuapeijat Mentawai
Dari Yogyakarta ke Tuapeijat Mentawai. Oleh Sundoyo. Ketua Bapelsin XXIX GKJ. Ini perjalanan kali pertama saya di acara Sidang MPL PGI. Perjalanan sebagai wakil Sinode di PGI, lembaga oikumene di Indonesia dimana GKJ ikut menjadi bidan yang melahirkan. Saya berangkat dengan posisi menggantikan keanggotaan Bapak Pdt Aris Widaryanto di MPL PGI. Sidang dilaksanakan hari Jumat – Senin, 26 sd 29 Januari 2024, dilaksanakan di Tuapeijat – Mentawai. Karena Mentawai adalah kepulauan di wilayah Propinsi Sumatera Barat, maka perjalanan dari Yogya ke lokasi sidang cukup menantang. Saya berangkat dari Yogyakarta Internasional Airport dengan pesawat jam 6.25 sehingga harus sudah bangun jam 4 pagi. Segera pesan gojek dan angkat rangsel menuju stasiun tugu untuk naik kereta bandara. Perjalaan yang nyaman dan murah dengan moda transportasi umum, tentu ini hasil kerja pemerintah yang menghadirkan fasilitas transportasi umum yang bagus. Pesawat berangkat pagi disertai dengan cahaya matahari yang cerah, yang sudah menghilang selama satu minggu di Yogya. Matahari terasa sirna tersapu oleh Badai Anggek, namun serasa mekar menghantar perjalananku menjalankan tugas gerejawi. Tidak ada pernerbangan yang langsung dari Yogyakarta ke Padang, maka harus transit di Bandara Soekarno Hatta. Menunggu sekitar 2 jam, pesawat menuju Padang sudah siap membawaku terbang tinggi. Kondisi penumpang penuh, sama seperti penumpang dari Yogyakarta ke Jakarta. Dari ratusan orang yang melakukan perjalanan, hanya beberapa orang yang memakai masker, akupun tidak. Kondisi sudah pulih paska Covid 19, banyak mobilitas orang dan dalam kondisi yang sehat. Prilaku yang berubah bagiku sendiri adalah kebiayaan sering cuci tangan dengan sabun. Perjalanan terasa nyaman dan singkat karena sepanjang jalan menikmati film. Sampai di Padang tengah hari, disambut dengan panasnya cuaca. Rasa panasnya seperti Semarang, membuatku harus lebih banyak minum. Peserta harus menginap semalam di Padang sebelum berangkat ke Tuapeijat. Panita memfasilitasi jika peserta ingin menginap di hotel yang sama, tentu dengan biaya sendiri. Tidak ada rumah makan Padang di Padang, makan malamku di warung lele yang penjualnya lancar berbahasa Minangkabau saat melayani pelanggan. Tapi kalau saling bercakap antara karyawan, mereka berbahasa jawa, dengan logat bahasa jawatimuran mereka saling bercanda. Jam 4 pagi, kamarku diketok-ketok, cukup kaget. Setelah aku buka, seorang satpam menyampaikan bahwa dia mendapat tugas untuk membangunkan semua peserta Sidang MPL PGI untuk segera bangun dan mempersiapakan diri. Dia datang lebih awal dari alarm hpku. Segera bersiap supaya tidak ketinggalan kapal. Semua tas, koper dikumpulkan dengan diberi tanda pita hijau untuk dibawa lebih dulu, sedangkan peserta dipersilahkan makan pagi. Dengan diangkut kendaraan kecil, peserta dibawa ke pelabuhan Padang. Peserta naik kapal cepat Mentawai Fast, perjalanan terasa panjang dan tidak kunjung sampai di darat. Disiapkan layar tv besar di dalam kapal yang ada 3 lantai ini. Sudah tiga film habis dan juga lagu-lagu Padang yang dilihat, tetap saja kapal masih malaju menerjang ombak. Semakin terasa lama perjalanan karena perut mual, kepala pusing dan sulit tidur dalam kondisi gelombang yang membuat tubuh terasa ‘kompal-kampul’. Kondisi cuaca cerah, tapi tubuh yang tidak biasa naik kapal dilaut membutuhkan waktu untuk adaptasi. Semoga ketika pulang ke Padang, tubuhnya semakin akrah dengan ‘kompal-kampul’nya kapal. Untuk menghilangkan kejenuhan, sempat juga naik ke atas kapal untuk melihat laut lepas, tapi ternyata tidak betah juga menghadapi angin yang kencang. Memang kalau sudah tidak nyaman jadi serba salah. Saya sendiri tahu alasan Sidang MPL PGI dilakukan di Mentawai. Ini sebagai simbol dukungan dan cara PGI mengangkat isu daerah 3T (terluar, terdepan dan tertinggal) supaya mereka mendapatkan perhatian dari Pemerintah Pusat dan juga membuka jaringan kerjasama antar sinode-sinode anggota PGI untuk memajuan saudara-saudara di daerah 3T. Saya kira semangat itulah yang masih membuat tubuhku bersedia kerjasama dengan perjalanan panjang di laut. Saya juga sempat lihat-lihat dan pegang-pegang pelampung warna kuning dibawah kursiku. Serta mencermati jalur pintu kalau harus segera meninggalkan kapal diwaktu emergency. Ini kewaspadaan yang dilatih dalam kewaspadaan dini dalam menghadapi bencana. Akhirnya lega juga setelah kakiku mengijak tanah di Bumi Sikerei. Sekitar jam 12.30 siang kami mendarat dan disambut oleh PJ Bupati, Eporus GKPM dan puluhan orang dengan baju warga merah dengan ornamen kuning, yang dihiasi dengan kalung serta daun-daun yang menjuntai dimanik-manik kalung. Para peserta juga disamput dengan penari adat oleh beberapa penari tua yang tubuhnya bertato tardisional. Sampai juga dan segera bersiap untuk ibadah pembukaan.
Setu, 27 Januari 2024 Minggu III Saksampunipun Epifani
Pangandharing Toret 13:1-5; Jabur 111; Mateus 8:28-9:1 MBRASTA PATRAP NASAR ING GESANG KITA “Pangajake nabi utawa wong olah inpen mau aja kokturuti…” (Pangandharing Toret 13:4) Umat Israel kaparingan pepenget ingkang cetha lan kenceng supados ngatos-atos sampun ngantos keblithuk lan ketarik kangge manembah dhateng para allah/dewa sesembahahanipun bangsa Kanaan. Umat Israel kadhawuhan namung mirengaken piwucal saking nabinipun Gusti Allah ingkang mesthi badhe mucalaken bab panembah lan pangabekti dhateng Gusti Allah piyambak. Pancen boten gampil menawi umat Israel kedah fokus namung dhateng Sang Yehuwah; awit saben dinten umat Israel wau gesang ing pasrawungan kaliyan suku-suku bangsa Kanaan. Pramila, umatipun Gusti Allah kedah nggadhahi disiplin rohani supados saged ngener namung dhumateng Sang Yehuwah, Gusti Allahipun. Menawi dhawuh menika kaetrapaken dhateng kita, kita ugi kedah nggadhahi disiplin rohani inggih punika manembah mangabekti kanthi setya namung dhateng Gust Yesus Kristus. Kita inggih ningali kawontenan ing kiwa-tengen kita, kathah tiyang ingkang taksih pitados dhateng dukun lan paranormal ingkang asring kasebat “tiyang pinter”. Kathah tiyang ingkang sami nyuwun pirsa lan nyuwun kekiyatan dhateng tiyang pinter wau. Menapa kita ugi ketarik dhateng praktek perdukunan kados menika? Jabur 62:9 ngengetaken, “He umat, tansah padha kumandela marang Panjenengane (Gusti Allah). Sarasaning atimu sokna ana ing ngarsane. Gusti Allah iku Pangaypman kita”. Lan ing Matius 11:28 kaserat, “He para wong kang kesayahen lan kamomotan, padha mrenea, Aku bakal gawe ayemmu”. Ugi ing I Petrus 5:7, “Sakabehing sumelangmu pasrahna marang Panjenengane (Sang Kristus) Sebab Panjenengane kang ngopeni kowe kabeh”. Ing sadaya kawontenan kita kedah tansah pitados lan mitadosaken gesang namung dhumateng Gusti Yesus, Allah kita ingkang sejati. Amin. |*SH
Yayasan TPK Indonesia Rayakan HUT ke-72
Yogyakarta, Yayasan Taman Pustaka Kristen (TPK) Indonesia merayakan ulang tahun ke-72 pada Kamis, 25 Januari 2024. Ibadah syukur ulang tahun yang sederhana namun khidmat ini dihadiri oleh seluruh organ yayasan (pembina, pengurus, dan pengawas) serta bapelsin XXIX GKJ.Atas keputusan tersebut, pada hari minggu terdekat dengan 25 Januari 2024 (28 Januari 2024) di seluruh GKJ diharapkan juga diselenggarakan dengan tema yang sama yaitu Literasi GKJ Mewujudkan Perdamaian. Ibadah yang dipimpin oleh Pdt. Imanuel Geovaski sebagai liturgos dan pelayanan sabda oleh Pdt.Risang anggoro eliarso Ibadah syukur ini mengusung tema “Literasi GKJ Mewujudkan Perdamaian”. Tema ini dipilih untuk menandai diterimanya usulan Yayasan TPK dalam sidang sinode XXIX tentang hari lahir TPK menjadi hari literasi GKJ. Dalam khotbahnya, Pdt. Risang Anggoro Elliarso mengajak kita untuk memahami perbedaan antara sikap literalis dan literasi.Pengertian yang dangkal mengenai literasi sebagai kemampuan membaca dan menulis bisa membawa orang pada sikap literalis, yang memperlakukan teks secara harfiah (letterlijk). Sementara, secara lebih mendalam, literasi sejatinya adalah kemampuan untuk memahami, mengkritisi, serta menggumuli teks secara memadai.Ketika gereja mengembangkan literasi yang mendalam di antara para warganya, gereja bisa turut serta mewujudkan perdamaian.ujar Pdt. Risang dalam kotbahnya. Dalam sambutannya, Sekretaris Bapelsin XXIX, Pdt. Anugrah Kristian menyampaikan ucapan selamat ulang tahun untuk Yayasan TPK Indonesia. Ia juga menyampaikan terima kasih atas peran TPK dalam menyediakan kebutuhan bacaan dan peribadatan bagi gereja-gereja. “Kami berharap TPK dapat terus bertransformasi dalam era digital,” kata Pdt. Anugrah. “Sehingga karya dan pelayanannya dapat diteruskan dijaman yang terus berubah.” Pada akhir ibadah syukur, diadakan persembahan khusus untuk Yayasan TPK dalam mengembangkan literasi GKJ ke depan. Persembahan ini akan digunakan untuk meningkatkan kualitas layanan TPK, seperti pengembangan perpustakaan digital, penerbitan buku-buku Kristen, dan pelatihan literasi bagi umat Kristen.







