II Samuel 6:12-19; Jabur 89:1-4, 19-26; Ibrani 1:5-14 MALAEKAT IKU NGLADOSI GUSTI ALLAH “Yèn mengkono para malaékat kuwi sapa ta? Para malaékat kuwi rak roh-roh sing padha ngladosi Gusti Allah lan sing diutus ngladosi wong-wong sing bakal padha tampa keslametan” (Ibrani 1:14) Salah sawijining hiasan Natal iku arupa malaikat. Malaikat iku ora lanang utawa wadon. Ing drama-drama natal biasane bocah wadon, nganggo sandhangan jubah putih lan duwe swiwi kanggo mabur. Kitab Suci nyaritakne malaikat iku abdine Gusti, roh-roh sing padha ngladosi Gusti, lan sing diutus ngladosi wong-wong sing bakal padha tampa keslametan. Malaikat kautus njaga para kagungane Gusti supaya ora kena ing cilaka. Malaikat uga diutus kanggo martakne sabda pangandikane Gusti marang manungsa. Lan malaikat uga kasebut minangka bala swarga kang tansah ngidungake pamuji tanpa kendhat, ngluhurake Asmane Gusti. Minangka roh, malaikat iku ora kasad mripat. Nanging roh iku kayadene angin. Sanajan ora katon, kita bisa ngrasakne angin amarga hawane dadi silir, lan ambegan dadi seger. Ing paprangan rohani nglawan kajuligane Iblis sing nggeret manungsa marang karusakan lan pepati, malaikat ngrewangi umate Gusti supaya santosa lan unggul. Ing keyakinan liya ana pangandel bab jin lan roh-roh alus liyane. Jarene jin sing becik iku bisa ngawula marang manungsa, lan bisa dikongkon-kongkon dening bendarane. Ana seri iklan sing lucu, jin nganggo sandhangan beskap metu saka kendhi lan mlengeh nawani wong sing nemokne, “Kuberi satu permintaan!” Nanging saben-saben wangsulane jin mujudake penjaluke manungsa iku malah dadi geguyon. Nalika ana wong sing nulungi kita, kita uga kerep ngarani wong iku dadi malaekat, utusane Gusti kanggo ngrewangi kita. Nalika seneng tetulung manungsa uga bisa disebut kaya malaekat kanggo pepadhane, nanging kosokbalene nalika malah nyilakani wong liya manungsa uga bisa diarani dadi iblis kanggo pepadhane. Mangga ing natal iki kita bisa dadi malaekat, abdine Gusti sing diutus leladi marang sesami. |*YTP
RENUNGAN SADHAR – Sabda Winedhar Januari 2024
RENUNGAN SADHARSabda Winedhar Januari 2024Mitra Saben Ari Marsudi Ati Tema: Tansah Anyar Saben Dintenipun Diterbitkan Oleh:Yayasan Taman Pustaka Kristen Indonesia(Anggota IKAPI)Jl. dr. Wahidin Sudirohusodo No. 38A Yogyakarta 55222Telp./Fax.: (0274) 512449; HP/WA: 087838211445E-mail: penerbit@tamanpustakakristen.comWebsite: www.tamanpustakakristen.com Bekerjasama dengan:Sinode Gereja-gereja Kristen JawaJl. Dr. Sumardi No. 8 & 10 Salatiga 50711Rek: BritAmaBisnis 0081-000589-56-1 a/n Sinode GKJTelp: 0298.326684 Email: sinode@gkj.or.id WA Center: +62 856 4066 6663Website: www.sinodegkj.or.id Klik disini Untuk mengunduh Temukan Pengalaman baru Renugan Harian Sadhar didalam genggaman smartphone.Unduh Aplikasi Renungan Harian Sadhar di Playstore, dan nikmati pembacaan renungan harian di kanal youtube Sinode GKJ Pemesanan dan Informasi dapat menghubungi Sinode Gereja-gereja Kristen JawaJl. Dr. Sumardi No. 8 & 10 Salatiga 50711Telp: 0298.326684 Email: sinode@gkj.or.id WA Center: +62 856 4066 6663
INFORMASI LIBUR NATAL
Nomor : SK/ 2023/ 87 / SB709 / 894H a I : Tema Natal Bersama PGI – KWI dan Libur Kantor Sinode GKJYang Terhormat Majelis Gereja se Sinode GKJBadan Pelaksana Klasis se Sinode GKJBadan Pelaksana Sinode dan Badan Pengawas Sinode GKJPengurus Yayasan/Lembaga/Bebadan dalam lingkup Sinode GKJ di alamat masing-masing Salam dalam kasih Tuhan Yesus Kristus,Bersama surat ini kami menyampaikan bahwa tema Natal Bersama Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Tahun 2023, “Kemuliaan bagi Allah dan Damai Seiahtera di Bumi (Lukas 2:14)”. Dengan ini pula kami memberitahukan bahwa dalam rangka Hari Natal dan Tahun Baru, serta cuti bersama pada akhir tahun. Kantor Sinode GKJ akan tutup/libur pada tanggal 25 Desember 2023 (tanggal 24-25 Desember 2023 cuti bersama Hari Natal sampai dengan 3 Januari 2024. Pada hari Kamis, tanggal 4 Januari 2024, Kantor Sinode GKJ sudah dibuka kembali.Demikian kami sampaikan, atas perhatian Saudara-saudara dan kerjasama yang baik kami ucapkan terimakasih. Akhirnya kami atas nama keluarga besar Kantor Sinode GKI mengucapkan kepada Saudara-saudara: Selamet Natal 25 Desember 2023danSelamat Tahun Baru 1 Januari 2024Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah Bapa, serta persekutuan Roh Kudus menyertai kita. Amin
Pesan Natal Bersama PGI-KWI Tahun 2023
KEMULIAAN BAGI ALLAH DAN DAMAI SEJAHTERA DI BUMI(Bdk. Lukas 2:14) Pesan Natal Bersama PGI-KWI Tahun 2023 Saudara-Saudari terkasih. Natal merupakan perayaan sukacita karena Allah berkenan menjumpai seluruh ciptaan-Nya dalam peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Sukacita itu terungkap antara lain dalam nyanyian para malaikat dan bala tentara surga: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Lk 2:14). Warta sukacita tentang kelahiran Yesus di kota Betlehem menggembirakan hati para gembala. “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat yaitu Kristus Tuhan di kota Daud” (Lk 2:10-11). Para gembala adalah pribadi-pribadi sederhana yang memiliki harapan besar kepada Sang Mesias sebagai pembawa damai sejahtera. Natal mengajak umat beriman untuk masuk dalam karya penyelamatan Allah dan bertemu dengan Sang Juru Selamat agar mengalami damai sejahtera. “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu di panggil menjadi satu tubuh dan bersyukurlah” (Kol 3:15). Damai sejahtera (shalom) sebagai suasana hidup yang damai, rukun, dan tentram, tidak hanya berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan antarsesama umat manusia dan antara manusia dengan alam semesta. Saudara-saudari terkasih Kelahiran Yesus yang menjadi wujud karya penebusan Allah telah membawa sukacita bagi umat beriman. Kehadiran-Nya telah membarui hidup dan mendorong kita untuk terus berjalan bersama menegakkan Kerajaan Kasih di tengah berbagai perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, dan golongan. Bersamaan dengan Perayaan Natal ini, kita memasuki masa persiapan Pemilu 2024. Kita sebagai warga bangsa akan memilih para pemimpin dan wakil rakyat. Perhelatan politik itu disamping membawa kegembiraan juga tidak jarang menyisakan dampak negatif seperti konflik dan perpecahan yang berkepanjangan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, kita perlu bijaksana dan dewasa dalam menyikapi pilihan politik yang berbeda-beda serta waspada terhadap penyebaran benih-benih kebencian yang dilakukan hanya untuk meraih kemenangan. Dengan berpegang pada prinsip bahwa Allah harus dimuliakan, maka politik identitas dan politik uang bukan pilihan perjuangan politik umat Kristiani. Kita menolak politik kekuasaan yang menghalalkan segala cara termasuk mengorbankan rakyat dan merendahkan martabat luhur kehidupan. Semangat Natal menggerakan umat Kristiani untuk terlibat secara aktif dalam menata kehidupan berbangsa yang lebih bermartabat demi mewujudkan kesejahteraan bersama. Oleh karena itu kita mendukung perjuangan politik yang mengutamakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Saudara-saudari terkasih Tindakan kita untuk memuliakan Allah dilaksanakan bukan hanya dengan membangun hubungan yang harmonis antarumat manusia tetapi juga perlu upaya-upaya untuk menjaga dan merawat alam semesta. Damai sejahtera tidak hanya untuk manusia tetapi juga untuk semua ciptaan dan kita dipanggil untuk turut menghadirkan sukacita bagi semua makhluk. Terkait dengan hal itu, Perayaan Natal mestinya mendorong kita untuk semakin peduli, kritis, dan berani menolak berbagai bentuk perusakan lingkungan hidup, seperti pemanfaatan sumber daya alam tanpa ada upaya pemulihan, serta pencemaran air, tanah, dan udara yang sangat berbahaya untuk keberlangsungan hidup semua makhluk. Tanggung jawab menjaga lingkungan hidup ini merupakan panggilan dan perutusan dari Allah sendiri untuk semua umat beriman (bdk. Kej 2:15). Kesejahteraan bagi semua makhluk hanya akan terwujud bila alam ciptaanNya selalu terpelihara dan terjamin kelestariannya. Oleh karena itu bumi akan turut bersorak sorai memuji Allah: “Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai” (Mz 96:11). Saudara-saudari terkasih Di era globalisasi ini, kita juga diajak untuk memuliakan Allah dan mewujudkan damai sejahtera melalui media sosial dengan terus menerus menyebarkan nilai-nilai kebaikan, kebenaran, keadilan, setiakawan, dan tenggang rasa. Hal ini menjadi penting karena keharmonisan hidup bersama dapat hancur oleh berita bohong dan ujaran kebencian yang marak di berbagai media sosial. Kita perlu bijak dalam menerima dan menyebarkan berita. Para gembala pergi dan menemukan kebenaran warta yang diterima dari malaikat ketika menjumpai bayi Yesus di palungan, lalu mewartakannya kepada yang lain. Natal mengingatkan kita bahwa komunikasi dan perjumpaan di zaman digital ini pun perlu dikelola secara baik agar dapat digunakan sebagai sarana untuk mewartakan Kabar Gembira. Di tengah kemajuan tehnologi informasi yang sangat cepat, ramai, dan sibuk, kita tetap membutuhkan waktu hening untuk berjumpa dengan Allah, sehingga komunikasi dan perjumpaan kita dengan sesama dapat mendatangkan sukacita. Semoga dengan Perayaan Natal kita semua merasakan kasih Allah yang selalu menyertai hidup kita. Allah yang maha kasih itu selalu bersama dengan kita. Imanuel, Allah berserta kita. Ia tidak pernah meninggalkan kita dalam situasi apapun (bdk. Ibr 13:5). Oleh karena itu, mari kita terus memuliakan Allah lewat upaya-upaya baik untuk mewujudkan damai sejahtera di tengah kehidupan keluarga, Gereja, masyarakat, dan bangsa. Secara khusus kita berdoa untuk perdamaian di daerah-daerah yang masih terjadi konflik dan kekerasan. Akhirnya, atas nama Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) kami mengucapkan selamat Natal Tahun 2023 dan selamat Tahun Baru 2024. Tuhan memberkati. Jakarta, 13 November 2023 Atas nama, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSCKetua Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFMSekretaris Jenderal Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt. Gomar GultomKetua Umum Pdt. Jacklevyn Frits ManuputtySekretaris Umum Pesan Natal Bersama PGI & KWI Tahun 2023
Kemis, 21 Desember 2023 Minggu Adven III
II Samuel 6:1-11; Jabur 89:1-4, 19-26; Ibrani 1:1-4 NGLUWIHI DUTA BESAR “Nanging ing jaman wekasan iki Panjenengané ngandika marang kita lantaran Kang Putra. Iya lantaran Kang Putra kuwi enggoné Gusti Allah nitahaké alam jembar. Sarta Panjenengané wis netepaké Kang Putra mau supaya sing wekasané ndarbèni samubarang kabèh” (Ibrani 1:2) Duta besar iku wong sing diutus makili negara. Lumrahe duta besar iku uga diparingi kwasa kanggo mutusi prekara-prekara sing ana ing kawenangane. Antarane kepala negara ora prelu rembugan saben-saben ana prekara, iku cukup diwakili dening duta besar wae. Dadi duta besar nduweni kalungguhan sing kajen lan pinunjul. Rawuhe Sang Kristus ing donya kang kita pengeti ing dina Natal iki linuwih tinimbang duta besar. Kitab Ibrani nyerat menawi Gusti Yesus iku Putrane Allah, cahya kamulyan sarta citrane Gusti Allah sing ceples. Sang Kristus ora mung dadi utusan kayadene duta besar sing diutus dening presiden, nanging Gusti Allah kang manjalma dadi manungsa, lan ngrawuhi jagad iki. Kaluhuran lan kamulyan Asmane banget enggone ngungkuli sakabehing jeneng. Padha karo Gusti kang ngrawuhi jagad lantaran Kang Putra, pasamuwan Kristen kautus dadi duta kang sembada martakake pakaryane Gusti Allah kang milujengake jagad. Dina-dina ing akhir tahun lumrahe kanggo wektu kita mawas dhiri lan nitipriksa, apa sing wis kita tindakne setahun iki. Sajroning panelangsa amarga ngakoni akeh kekurangan, kaluputan lan dosa sing kita tindakne, ana kabungahan amarga rawuhe Gusti Yesus kang kita pengeti ing dina Natal nggawa pahargyan ing urip manungsa sajagad. Mangsa Natal iki wancine kanggo ngajak sakupeng kita melu ing pahargyan lan kabungahan. Beda karo dina riyadi bakdan sing dadi dina riyaya gedhe kanggo sabangsa, dina riyadi natal kerep mung dadi pahargyan ing kalangane umat Kristen. Linuwih saka dekorasi, hiasan, lan lagu-lagu natal sing disetel, pahargyan natal iku martakake kabar kabungahan gedhe kanggo sajagad. Pasamuwan Kristen dadi duta sing martakake kabar kabungahan iku. |*YTP
Rebo, 20 Desember 2023 Minggu Adven III
Maleakhi 3:16-4:6; Jabur 125; Markus 9:9-13 ABDINE GUSTI KUDU NANDHANG SANGSARA “Gusti Yésus ngandika: … Nanging kepriyé mungguh Putraning Manungsa? Apa sebabé déné ing Kitab Suci ditulis yèn Putraning Manungsa kudu nandhang sangsara akèh lan disawiyah-wiyah! Élinga, Nabi Élia pancèn wis rawuh. Nanging wong-wong padha tumindak sawenang-wenang marang panjenengané. Kuwi cocog karo sing wis katulis ing Kitab Suci” (Markus 9:12-13) Ana adat sing ditindakne dening salah sawijining pasamuwan, saben pahargyan Natal mesthi ngedum-edum paket sembako marang tangga teparo sing diwawas patut nampani. Paket sembako iku diklumpukne dening pasamuwan pirang-pirang wulan sadurunge. Bisa atusan paket sing diedumake ing minggu sadurunge Natalan. Ujube supaya padha bisa melu bebungah ing dina pahargyan Natal, sanajan sing diaturi paket iku dudu warga pasamuwan. Sanajan wis dadi adat sing ditindakne saben tahun, eh ana wae sing nyaruwe menawa iku kristenisasi. Rumangsane apa yen nampa paket beras, gula teh, minyak goreng saka greja iku terus langsung dadi Kristen? Dadi abdine Gusti iku pancen kudu nandhang sangsara. Wiwit para nabi nganti Gusti Yesus padha disawiyah-wiyah. Nanging sabda pangandikane Gusti paring panglipur, “Begja wong sing disiya-siya merga enggoné nglakoni kersané Gusti Allah; awit wong sing mengkono kuwi sing dadi umat ana ing Kratoné Allah. Begja kowé menawa diwewada, disiya-siya lan dipitenah merga saka enggonmu dadi murid-Ku. Para nabi sadurungé kowé iya padha disiksa kaya mengkono. Padha bungaha lan dipadha gembira, sebab gedhé ganjaran sing bakal kaparingaké déning Gusti Allah marang kowé.”(Mat.5:10-12). Nandhang sangsara amarga panyaruwe lan komen nyinyir saka wong liya iku durung sepiraa menawa kabandhingake karo lelampahane para abdine Gusti, apa maneh Gusti Yesus kang nganti seda sinalib ing tangane para wong dosa. Menawa wong bener wae disiya-siya, apa maneh menawa tumindake luput lan ala! Dadi aja kendho anggone tumindak sing becik, tansah dadi abdine Gusti sing nyekseni lan leladi marang sesami. Dina riyadi Natal gari Minggu ngarep. Iki wancine kita mirunggan ngedum-edumake berkah peparinge Gusti kanggo sakupeng kita. |*YTP
Slasa, 19 Desember 2023 Minggu Adven III
II Para Raja 2:9-22; Jabur 125; L. Para rasul 3:17-4:4 POLITIK AGAMA SAKA PANGWASA “Nalika Rasul Pétrus lan Rasul Yohanes isih padha ngandikani wong akèh mau, dumadakan ditekani déning para imam, penggedhéné sing jaga Pedalemané Allah, lan wong Saduki” (L. Para Rasul 4:1) Urip bebarengan iku nduweni pranatan, pranatan iku kawujudake ing tata pemerintahan, lan katindakake dening para sing ngasta kalenggahan. Nalika jaman pasamuwan kawitan, para rasul dicekel lan ditahan ing pakunjaran dening para imam, panggedhene sing jaga Pedalemane Allah, lan wong Saduki. Golongan iku makili para sing ngasta pangwasa ing satengahing bangsa Yahudi. Pawartane para Rasul didakwa gawe kisruh, malah piwulang sing nasarake wong akeh, amarga martakake Gusti Yesus sing seda kasalib iku wungu lan gesang malih, sumengka ing swarga, lan dadi Juru Wilujeng manungsa. Wiwit pasamuwan kawitan, para kang ngasta pangwasa wis nindakne panindhes marang pasamuwan nggunakne politik agama. Politik agama iku klebu politik identitas. Saben wong duwe identitas, tegese katrangan bab suku, agama, ras, golongan. Ana identitas sing digawa saka lair, lan ana uga identitas sing dipilih lan dilakoni nalika wis dewasa. Kita ora bisa ngowahi suku lan ras kita, nanging kita bisa ngowahi status perkawinan, katrangan pekerjaan, uga bisa ngowahi status agama. Politik agama lumrahe meksakne pangandel lan piwulang saka agamane golongan mayoritas lan nindhes marang golongan minoritas. Hasil saka politik agama iku jane wagu lan lucu, nanging uga nyebeli. Saben arep natalan ana wae isu sing dadi rembugan maneh: Ngucapke selamat natal iku oleh utawa haram. Mangkono uga umat liya menawa melu perayaan natal iku haram utawa ora. Ana sawetara golongan sing ndadekne iku prekara sing haram lan ora oleh ditindakne. Sokur dene pemerintah Indonesia nganti saiki tetep jejeg ora melu-melu politik agama sing saru iku. Nanging tetep ana bebaya gedhe nalika agama ditunggangi dening kapentingan politik. Dadine politik agama sing saru. |*YTP
Senen, 18 Desember 2023 Minggu Adven III
I Para Raja 18:1-18; Jabur 125; Efesus 6:10-17 MBANGUN KEKUWATAN ING PATUNGGILANE GUSTI “Wasana padha mbanguna kekuwatanmu ana ing patunggilané Gusti, kanthi migunakaké kasektèning pangwasané (Efesus 6:10) Ora ana sing kepengin uripe ringkih lan sekeng. Sing tansah dadi pamuji supaya urip kita bisa kuwat santosa, menang ngalahake sakehing panggodha lan adoh saka sakehing memala. Ing urip bebarengan wong sing kuwat santosa iku uga bisa dadi jujugane pepadha sing butuh pitulungan. Ana uga wong sing kuwat santosa disengiti dening pepadhane, amarga sikepe dumeh kuwat lan santosa malah dadi gumunggung, ngremehake pepadhane, durung maneh sing tumindake malah dadi preman sing nindhes lan meres pepadha sing ringkih lan asor. Ing donya, bangsa sing kuwat malah kerep dadi ancaman kanggo bangsa-bangsa liyane sing ringkih. Kuwat santosa ing donya ateges nguwasani ekonomi, tehnologi, sumber-sumber alam sing dadi kabutuhan pangan lan energi, lan uga angkatan perang sing mumpuni. Dudu iku sing dikersakne anggone kita kadhawuhan mbangun kakuwatan ing patunggilane Gusti. Ing Minggu Adven kaping telu iki kita cecawis mapag rawuhe Gusti kang malah ngucat kamulyane, ngagem sipate abdi, lan rawuh ing donya awujud manungsa, miyos minangka bayi sing ora duwe kakuwatan apa-apa. Timbalan supaya kita mbangun kakuwatan ing patunggilane Gusti adoh saka pengangen-angen lan pepenginane manungsa sing ngudi kakuwatan tata cara donya. Kasekten lan pangwasa kang ana ing patunggilane Gusti iku kanggo leladi, supaya bisa menang ing paprangan ngadhepi kajuligane Iblis. Gaman peparinge Gusti iku dudu pedang, bedil, apa maneh tank lan roket. Kuwat santosa lan kwasa kasekten ing patunggilane Gusti iku wujude urip ing kayekten, kamursidan, cumadhang martakake Injiling katentreman, precaya marang Gusti, mahargya kaslametan, lan ngamini sabdane Gusti. Iku saranane supaya kita tansah menang, urip kuwat santosa ing patunggilane Gusti. |*YTP
Ahad, 17 Desember 2023 Minggu Adven III
Yesaya 61:1-4, 8-11; Jabur 126; I Tesalonika 5:16-24; Yokanan 1:6-8, 19-28 SWARA KANG NGUMANDHANG ING ARA-ARA SAMUN “Nabi Yohanes nuli mangsuli nganggo ayat saka Kitabé Nabi Yésaya: “Aku iki swara sing ngumandhang ana ing ara-ara samun: Dalan sing kagem Gusti padha ratanen!” (Yokanan 1:23) Wis suwe banget ora ana nabi ing satengahing bangsa Israel. Pakaryane Nabi Yohanes ndadekne geger sabangsa kang lagi ngarep-arep rawuhe Sang Kristus. Nanging Yohanes dhewe jujur ngakoni menawa panjenengane dudu Sang Kristus, utawa Nabi Elia sing nitis, utawa Sang Nabi. Adhedhasar pameca ing Kitab Yesaya Nabi Yohanes nyebut dheweke iku mung swara sing ngumandhang ana ing ara-ara samun, lan martakne, “Dalan sing kagem Gusti padha ratanen!” Lumrahe owah-owahan gedhe satengahing bangsa lan donya iku kawitane saka kraton, saka kutha gedhe, utawa saka para raja lan sing padha ngasta pangwasa lan kalungguhan. Nanging Nabi Yohanes malah miwiti pakaryane ing ara-ara samun, lan malah wong akeh sing padha sowan marang panjenengane, ngakoni dosane, lan nyuwun kabaptis. Nabi Yohanes sing kawitan nggunakne baptis minangka pratandha pamratobat. Banyu ing bengawan Yarden dadi gegambaran pakaryan sihrahmate Gusti Allah kang ngresiki sakabehing dosa lan nyucekake uripe umat kang nglairake pamratobat. Kwasa lan panampane wong akeh ora ndadekne Nabi Yohanes lali. Yohanes ngrumangsani menawa anggone mbaptis mung nganggo banyu, lan sing badhe rawuh bakal mbaptis srana Roh. Anggone ngesorake dhiri ing ngarsane Gusti, pengakune, “Nguculi taline trumpahe wae aku ora patut”. Yagene swara sing ngumandhang ing ara-ara samun bisa dadi viral, bisa kondhang, keprungu dening wong sabangsa, lan narik wong akeh padha mara, ngakoni dosa, lan nyuwun kabaptis dening Nabi Yohanes? Saiki akeh wong sing kepengin kondhang, kepengin dadi viral lan dadi berita sing dirembug wong akeh, nanging sanajan wis nggunakne cara mawerna-werna tetep ora bisa, malah digeguyu dening wong liya. Nabi Yohanes ngesorake dhiri, nanging malah kaluhurake ing ngarsane Gusti. |*YTP
Setu, 16 Desember 2023 Minggu Adven II
Habakuk 3:13-19; Jabur 126; Mateus 21:28-32 KRUNGU, NAMPA, PRACAYA LAN NINDAKAKE “Sebab Nabi Yohanes Pembaptis rawuh lan nuduhaké dalan sing bener marang kowé, éwasemono kowé padha ora precaya marang panjenengané. Nanging para wong durjana lan para pelacur padha precaya marang panjenengané. Déné kowé kabèh, ora banjur ngowahi pikiranmu lan precaya marang panjenengané” (Mateus 21:32) Ing pasemone Gusti Yesus bab anak loro, lan dikongkon bapakne supaya nyambut gawe ing kebon anggur, pilihane mung antarane anak mbarep sing mangsuli ora gelem, nanging keduwung lan mangkat nyambut gawe, utawa adine sing mangsuli “Inggih Pak”, nanging ora mangkat. Padha-padha nampa dhawuhe wong tuwa, anak loro iku beda wangsulane, lan beda tumindake. Nindakne apa sing dadi kersane bapake pancen luwih becik tinimbang sing ing tembung mangsuli inggih, nanging ora tumindak. Nanging apa ora luwih becik maneh menawa anake loro iku mangsuli kanthi inggih, “sendika dhawuhe Bapak badhe ditindakake”, lan sawise iku budhal menyang tegalan lan nggarap pegaweyan sing didhawuhake. Padha-padha krungu sabdane Gusti, wong bisa nampa lan pracaya, bisa uga sulaya lan ora pracaya. Wong ora bakal bisa pracaya menawa ora krungu lan nampa. Mokal menawa bisa nindakne dhawuh sabda pangandikane Gusti, kamangka babar pisan ora krungu, ora nampa, apa maneh pracaya. Tumindak sing netepi dhawuh sabdane Gusti iku dadi tandha, anggone wong wis sinau, ngerti, pracaya lan ngestokake sabda pangandikane Gusti. Wohe mesthi becik, mbabarake karahayon, katresnan, lan nyantosakne urip sing ngabekti marang Gusti. Prakara sing kita adhepi saiki akeh sing wis rumangsa ngerti, ora mung krungu nanging wis katam anggone sinau, bisa ngajari wong liya bab sabda pangandikane Gusti, malah kerep uga ngakimi sing diwawas luput lan beda panemune, kamangka wong iku ora nindakne apa sing dadi sabdane Gusti. Tinimbang wong sing keminter lan kemlinthi kaya ngono iku, luwih becik sing disebut para wong durjana lan pelacur, nanging malah pracaya lan nindakne apa kang dadi sabdane Gusti. |*YTP



