+ (0298) 326684

sinode@gkj.or.id

Follow Us:

Menenun Kidung Kasih: GKJ Mojosongo Gelar Penahbisan Pendeta dan Emeritasi dalam Sukacita 30 Tahun Perjalanan Pelayanan

Suasana penuh sukacita, haru, dan rasa syukur menyelimuti ibadah Penahbisan Pendeta dan Emeritasi Pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ) Mojosongo yang diselenggarakan di Pendhapa Ageng Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta, Sabtu, 31 Oktober 2026, tepat pukul 16.00. Dalam momentum istimewa ini, Vikaris Wenyi Mirahingsih Larasati, S.Fil. ditahbiskan menjadi pendeta, sementara Pendeta Supranjono Eko Raharjo, S.Si. memasuki masa emeritasi. Perayaan ini sekaligus menjadi ungkapan syukur atas perjalanan 30 tahun pelayanan GKJ Mojosongo.

Mengusung tema “Menenun Kidung Kasih”, ibadah dikemas dalam nuansa intergenerasional yang memadukan berbagai unsur seni dan budaya. Penataan musik, lagu, serta tari berpadu harmonis, menghadirkan suasana ibadah yang hidup, indah, dan sarat makna. Semangat kebersamaan semakin terasa melalui kehadiran Paduan Suara Gabungan seluruh jemaat GKJ Mojosongo yang mengiringi dan menghidupkan pujian sepanjang ibadah.

Nuansa intergenerasional yang dihadirkan bukan sekadar tampak dalam ragam penampilan, melainkan juga menjadi gambaran kehidupan gereja yang merangkul setiap generasi dengan keunikan, talenta, dan perannya masing-masing. Semua dipersatukan dalam satu persekutuan untuk memuliakan Tuhan.

Khotbah disampaikan oleh Pendeta Wenyi Mirahingsih Larasati, yang mengangkat tema “Menenun Kidung Kasih”, Pendeta Wenyi menyampaikan pesan secara komunikatif dan mengajak seluruh jemaat untuk menyadari bahwa setiap orang memiliki warna, corak, karakter, serta talenta yang berbeda-beda.

Perbedaan tersebut hendaknya tidak menjadi alasan untuk terpisah, melainkan menjadi kekayaan yang dapat dirangkai bersama. Seperti kain tenun yang terbentuk melalui jalinan benang-benang dengan warna dan corak yang beragam, demikian pula kehidupan gereja dipanggil untuk memadukan hati, saling mengikat dalam kasih, dan menyatukan setiap perbedaan menjadi sebuah karya yang indah. Melalui kehidupan yang saling menopang dan melayani, jemaat dapat menghadirkan kidung kasih yang nyata bagi kemuliaan nama Tuhan.

Momen haru juga mewarnai sambutan Pendeta Emeritus Supranjono Eko Raharjo. Ia mengajak jemaat untuk tidak menangisi masa emeritasinya. Dengan penuh kehangatan, ia menegaskan bahwa masa emeritasi bukan berarti berakhirnya kebersamaan. Dirinya tetap akan hadir dan membersamai jemaat dalam berbagai kesempatan serta kegiatan pelayanan.

Keistimewaan ibadah ini semakin terasa karena dipimpin secara kolaboratif oleh tiga pendeta yang merepresentasikan kesinambungan pelayanan GKJ Mojosongo. Pendeta Supranjono Eko Raharjo sebagai pendeta pertama, Pendeta Puspita Setyoarti sebagai pendeta kedua, dan Pendeta Wenyi Mirahingsih Larasati sebagai pendeta ketiga yang baru saja ditahbiskan, bersama-sama mengambil bagian dalam memimpin jalannya ibadah.

Kolaborasi ini menjadi gambaran nyata tentang kesinambungan pelayanan lintas generasi: ada yang telah menabur dan membangun fondasi, ada yang sedang melanjutkan karya pelayanan, dan ada pula yang kini menerima tongkat estafet untuk melangkah ke masa depan.

Bertepatan dengan peringatan 30 tahun perjalanan GKJ Mojosongo, peristiwa penahbisan dan emeritasi ini menjadi momentum refleksi sekaligus pembaruan komitmen. Tiga dekade perjalanan gereja bukan hanya tentang bertambahnya usia sebuah jemaat, melainkan tentang kesetiaan Tuhan yang terus menyertai, karya pelayanan yang terus bertumbuh, serta keterlibatan seluruh warga gereja dalam membangun persekutuan.

Melalui tema “Menenun Kidung Kasih”, GKJ Mojosongo diingatkan bahwa gereja adalah ruang tempat setiap orang dengan segala keunikan dan perbedaannya dipanggil untuk saling merangkul, menguatkan, dan melayani. Sebab, keindahan sebuah tenunan tidak terletak pada keseragaman benangnya, melainkan pada kesediaan setiap helai untuk terjalin dan membentuk satu kesatuan.

Di usia yang ke-30, GKJ Mojosongo melangkah dengan semangat baru: melanjutkan karya pelayanan, merawat kebersamaan lintas generasi, dan terus menenun kidung kasih sebagai kesaksian iman bagi dunia. Sebab, ketika setiap hati terikat dalam kasih Kristus, perbedaan bukanlah sekat, melainkan warna yang memperindah tenunan kehidupan gereja.

Visitator: Pdt. Yemima Widi Nurani

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *