IBADAH PENAHBISAN DAN EMIRITASI
GKJ KARANGALIT SALATIGA
Sabtu, 28 Maret 2026
Suasana penuh sukacita dan haru menyelimuti Gereja Kristen Jawa (GKJ) Karangalit, Salatiga, pada Sabtu pagi, 28 Maret 2026. Ibadah istimewa yang dimulai pukul 09.00 WIB ini menjadi momentum penting dalam kehidupan bergereja, yakni penahbisan Pendeta Angki Yula Putri Meina, S.Si., Theol., sekaligus emiritasi Pendeta Hananto Kusumo, S.IP., M.Si., Theol.
Seluruh jemaat GKJ Karangalit Salatiga hadir memenuhi ruang ibadah, menunjukkan dukungan dan kasih bagi kedua hamba Tuhan tersebut. Tidak hanya itu, ibadah ini juga dihadiri oleh 34 pendeta dari lingkungan Sinode GKJ, yang turut menjadi saksi atas peristiwa bersejarah ini.
Ibadah berlangsung dengan khidmat dan tertata rapi. Dalam kesempatan tersebut, Pendeta Angki Yula Putri Meina menyampaikan khotbah sulungnya dengan tema “Seindah Bunga yang Tuhan Rangkai”, yang diambil dari Matius 6:28b-30. Dalam khotbahnya, ia mengajak jemaat untuk merenungkan pemeliharaan Tuhan yang begitu indah dan sempurna, sebagaimana bunga-bunga di ladang yang dirawat oleh-Nya. Pesan ini sekaligus menjadi ungkapan iman dan komitmen awal dalam pelayanannya sebagai pendeta.
Sementara itu, Pendeta Hananto Kusumo yang memasuki masa emiritasi juga menyampaikan khotbah perpisahannya dengan judul “Inilah Ibumu”, berdasarkan Yohanes 19:26-27. Melalui perenungan tersebut, ia menegaskan pentingnya relasi kasih dalam komunitas iman, sebagaimana Yesus mempercayakan Maria kepada murid-Nya. Khotbah ini menjadi pesan penutup yang sarat makna setelah perjalanan panjang pelayanannya.
Ibadah yang berlangsung kurang lebih dua jam ini berjalan dengan penuh kekhusyukan dan rasa syukur. Setiap rangkaian liturgi mencerminkan perpaduan antara rasa haru karena perpisahan dan sukacita atas awal pelayanan yang baru.
Setelah ibadah selesai, acara dilanjutkan dengan resepsi syukur yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Resepsi ini turut dihadiri oleh para pejabat pemerintah Kota Salatiga, sebagai bentuk dukungan dan apresiasi terhadap peran gereja dalam kehidupan masyarakat.
Peristiwa penahbisan dan emiritasi ini menjadi simbol kesinambungan pelayanan dalam gereja: tongkat estafet yang berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam kebersamaan dan doa, jemaat GKJ Karangalit Salatiga mengiringi langkah Pendeta Angki dalam pelayanannya, serta mengucap syukur atas dedikasi Pendeta Hananto selama ini.
Ibadah hari itu bukan sekadar seremoni, melainkan peristiwa iman yang meneguhkan bahwa Tuhan terus berkarya melalui para pelayan-Nya, dari masa ke masa.

















