+ (0298) 326684

sinode@gkj.or.id

Follow Us:

PELATIHAN BAGI PARA PELATIH (TRAINING OF TRAINERS) PENDIDIKAN POLITIK BAGI KLASIS-KLASIS GKJ TAHUN 2025

“Gereja absen di ruang publik”, “Gereja tidak memfilter uang yang masuk ke gereja”, demikian dua ungkapan dari Bp. Juwanto, peserta dari Klasis Salatiga Bagian Utara. Hal ini disampaikannya pada sesi awal dalam kegiatan TOT Pendidikan Politik yang dilaksanakan Bapelsin XXIX Bidang Keesaan pada Jumat-Sabtu, 5-6 September 2025 di LP3S Sinode GKJ d.a. Jln. Soekarno-Hatta No. 10. Jawa Tengah. Sesi brainstorming ini dilaksanakan pukul 10.00 WIB dipandu Pdt. Hananto Kusumo yang mengajak 24 peserta utusan klasis-klasis untuk menyampaikan masalah politik riil yang dihadapi warga jemaat dan masyarakat Indonesia. Bagian ini sangat menarik karena sebagian besar peserta asyik berbagi pendapatnya seperti ungkapan: “maraknya korupsi”, “politik uang”, “calon wakil tidak disiapkan”, “politik dianggap jahat”, dan ungkapan menarik yang lain.

Pelatihan ini dilaksanakan dua hari, dilatarbelakangi dengan adanya buku berjudul Kurikulum Pembinaan Bakal Calon Legislatif, Calon Legislatif, Anggota Legislatif, dan Aparatur Sipil Negara. (link web sinode GKJ https://sinodegkj.or.id/2024/01/18/kurikulum- pembinaan-bakal-calon-legislatif-calon-legislatif-anggota-legislatif-dan-aparatur-sipil-negara-gkj/) yang telah diterbitkan Badan Pelaksana Sinode (Bapelsin) XXVIII GKJ Bidang Keesaan. Buku tersebut lahir dari kesadaran akan pentingnya pembinaan politik bagi warga GKJ, khususnya bagi agen politik formal maupun informal, khususnya para (calon) legislatif maupun eksekutif (para Aparatur Sipil Negara yang duduk di jajaran pemerintahan) supaya bisa berperan secara positif untuk menjadi terang dan garam di tengah bangsa Indonesia. Dalam pengamatan Bapelsin, kesadaran tersebut secara umum sudah dimiliki oleh gereja-gereja di lingkungan GKJ. Hal ini dibuktikan dengan pembinaan politik yang sudah dilaksanakan pada aras Sinode maupun aras Klasis, bahkan ada Klasis yang telah memiliki Bidang Sosial Politik dalam struktur organisasi Badan Pelaksana Klasis (Bapelklas). Namun kesadaran saja belumlah cukup, masih diperlukan adanya pendidikan politik yang tepat sasaran, produktif atau target yang lebih terukur secara berkelanjutan.

Bapelsin XXIX GKJ mendapatkan amanat sidang sinode yang tertuang dalam Akta Sidang Sinode GKJ XXIX Artikel 12 tentang Pendidikan Politik bagi Warga Gereja untuk melakukan pelatihan bagi para pelatih (Training of Trainers) dengan menggunakan kurikulum pendidikan politik itu. Bahkan persidangan juga mengamanatkan pada Bapelsin XXIX GKJ untuk mendorong klasis-klasis mengadakan pendidikan politik bagi warga gereja dengan memanfaatkan buku kurikulum tersebut. Menindaklanjuti hal di atas, sebagai langkah awal pelaksanaan mandat, maka Bapelsin XXIX GKJ Bidang Keesaan mengadakan kegiatan pelatihan bagi para pelatih untuk memenuhi harapan dua amanat sidang tersebut bisa direalisasikan. Hal ini seiring dengan kegiatan Bulan Kebangsaan 2025 yang sudah menjadi agenda rutin tahunan setiap bulan Agustus yang dilaksanakan gereja.

Kegiatan ini dibuka dengan ibadah oleh Pdt. Wurihanto Handoyo mengambil teks Daniel 3:16b-18 intinya mengajak peserta merenungkan tokoh Daniel, Sadrach, Messak, dan Abednego tentang keteguhan keyakinan dan hati nurani di tengah tantangan perjumpaan dengan penguasa. Puluhan peserta yang berlatarbelakang pendeta, mahasiswa, mantan legislator, mantan anggota KPU, serta aktivis gereja itu kemudian diajak seorang mantan ketua KPU Kota Surakarta, Ibu Nurul Sutarti, berdiskusi tentang Agen-Agen Politik Dan Distribusi KekuasaanTriaspolitika, Partai Politik, Kelompok Kepentingan (ormas, organisasi buruh, kelompok bisnis, organisasi profesi, lembaga masyarakat sipil, media, gerakan mahasiswa), influencer, bebadan Pemilu. Birokrasi, kepemimpinan daerah, distribusi dan manajemen kekuasaan. Pdt. Hananto Kusumo membagikan materi Hakikat: Politik, Negara, Kewarganegaraan (Citizenship), Sistem dan Nilai (Keadilan, Kebenaran, Kasih, dan Pancasila), serta Kerajaan Allah dan Diskusi Posisi Gereja. Peserta mengikuti kegiatan dengan antusias dan hari pertama ini ditutup dengan renungan malam refleksi dari Kejadian 1:26-28 oleh Pdt. Idi Bangun Mulyono (anggota Bawasin) dengan tema Berpolitik: Antara Menyadari dan Menembus Batas (komitmen).

Hari kedua dimulai pukul 07.00 WIB dengan materi Asas dan Akses Pengembangan Diri-Manajemen diri (waktu), Etika, Etos, dan Attitude, Integritas, teamwor oleh Pdt. Wisnu Sapto Nugroho. Narasumber berikutnya adalah Bp. Dance Ishak Palit, M.Si., seorang ketua DPRD Kota Salatiga yang membagikan pengalamannya tentang Political Skills: Budgeting, Legal Drafting, Controlling, Database Collecting, dan Komunikasi: Persuasi, Lobbying, Resolusi dan Rekonsiliasi. Pdt. Hananto kembali memandu sesi berikutnya tentang Asas, Akses, Strategi dan Taktik, berisi  tentang asas-asas dalam penentuan strategi dan taktik kampanye dan policy making juga cara mengakses ilmu/strategi/taktik. Pada sesi akhir pendeta lulusan Fisipol HI UGM ini mengajak peserta menajamkan penerapan dengan diskusi tentang Integritas yang Integral Berpolitik Tanpa Politickingdengan belajar lebih dalam melalui Metode Studi Kasus (MSK) di Indonesia.

Pdt. Lintang Anggraini sebagai Ketua Bidang Keesaan menutup kegiatan dengan menyampaikan terima kasih kepada para peserta dan harapan semoga melalui kegiatan ini, para peserta dapat berperan aktif dalam meningkatkan literasi politik yang cerdas, beretika, dan bertanggung jawab di lingkungan gereja dan masyarakat. Kegiatan ini mendapatkan respons baik, seperti ungkapan WA dari Bp. Agung Hermon Utomo utusan Klasis Klawu Karanganyar grup WhatsApp TOT.  “Sama-sama Ibu dan juga Bp/Ibu semua, terima kasih juga untuk pengalaman dan ilmu yang sudah dibagikan, semakin mencerahkan dan juga menambah yakin utk terus ambil bagian dalam perpolitikan, Tuhan Yesus memberkati 🙏🏻”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *