+ (0298) 326684

sinode@gkj.or.id

Follow Us:

GKJ Epifani

kisspng-san-sebastian-church-bible-christian-church-gospel-church-vector-5ad95549581590.0892014715241925853608

GKJ Epifani

SDS
Informasi Kontak

Alamat : Dusun Karang Senen Rt 02 Rw 05 Desa Traji Kec. Parakan Kab.Temanggung

Telp : 0293 5914095

WA Center : –

Email : Gkjepifani221217@gmail.com

Website : –

Pendeta
  1. Pdt. Puji Sulistyanto S.Th.M.Miss.
Maps
Jadwal Ibadah

Minggu pukul 07.00

Pendewasaan

22 Desember 2001

Sejarah Gereja

Sejarah berdirinya Gereja Kristen Jawa Epifani
Benih di tanah Traji
Secara geografis desa Traji terletak di ketinggian 700 meter dari permukaan laut dan berjarak 3 km dari ibu kota kecamatan Parakan dan 15 Km dari ibu kota kabupaten Temanggung Dengan luas 16695 ha yang terbagi dalam lahan sawah dan lahan bukan sawah. Desa Traji terdapat 4 dusun yaitu dusun Kauman dusun Gamblok dusun Grogol dan dusun Karangsenen dengan jumlah penduduk 3.231 jiwa.
Babad Alas
Masa perintisan jemaat (babad alas) ditanah Traji sebenarnya memakan waktu yang cukup panjang yaitu mulai tahun 1938-1965. Pengkabaran injil di desa Traji dilakukan Bapak Pdt. RS Atmosukarto (alm) yaitu pendeta pertama dari GKJ Parakan sejak tahun 1938 akan tetapi sampai tahun 1964 dalam waktu ± 25 tahun lamanya injil yang ditaburkan belum tumbuh.
Baru pada tahun 1964 yaitu sejak bapak Pdt. Jahja Soerjaatmadja (alm) yaitu pendeta kedua GKJ Parakan benih injil mulai tumbuh di desa Traji. Tahun 1964 ada seorang ibu yang bernama Sainah Suwignyo dengan kedua anak perempuan yaitu ; Sariyah dan Tusminah.
Ibu Sainah Suwignyo mempunyai saudara di Parakan (desa Wanutengah) mengajak ikut kebaktian hari minggu di Gereja Parakan. Oleh Bapak Pdt. Jahja Soerjaatmadja (alm) selalu dikunjungi yang kemudian diajak belajar agama Kristen (Katekasi) selama kurang lebih satu tahun dan akhirnya pada tanggal 12 Desember 1965 dibaptis bersama kedua anaknya di GKJ Parakan Inilah bibit yang menjadi Kristen.
Pekabaran injil di desa Taji terus dilakukan dengan tekun dan setia baik secara pribadi gereja dan melalui pelayanan Rumah Sakit Kristen Ngesti Waluyo. Pada akhirnya ada seorang mantri Kesehatan yaitu Bp. Yoso Artono (alm). Sejak menjadi mantri Kesehatan di Rumah Sakit Kristen (RSK) Ngesti Waluyo Parakan sering diundang orang-orang untuk mengobati orang yang sakit di desa Traji. Dengan mengobati orang-orang sakit tersebut karena beliau Bapak Yoso Artono (alm) adalah orang Kristen maka bersaksi tentang Tuhan Yesus kepada keluarga pasien. Dengan kesaksian tersebut di dusun Kauman ada seorang yang bernama Bapak Sutrisno Samsuri terpanggil ingin mengerti lebih lanjut tentang agama Kristen.
Dengan tanggapan dan penerimaan berita injil secara baik dan positif Bapak Yoso Artono (alm) kemudian memberitahukan bahwa didusun Kauman ada seseorang yang ingin mengetahui ( apa dan bagaimanakan ) agama Kristen kepada Bapak Pdt. Jahja Soerjaatmadja (alm). Beliau lalu diajak ke desa Traji dan diperkenalkan kepada Bapak Sutrisno Samsuri. Setelah beberapa kali dikunjungi dan diperkenalkan kepada Tuhan Yesus kemudian mulai tahun 1955 Bapak Sutrisno Samsuri dan istrinya mulai mengikuti kebaktian minggu di GKJ Parakan.
Dengan begitu semangat serta setia menanggapi panggilan Tuhan Menjadi pengikutNya (menjadi orang Kristen) tekun ke gereja walaupun jauh dan harus berjalan kaki. Ketekunan kesetianserta kerajinan nya pergi ke gereja di Parakan ternyata juga menjadi sebuah kesaksian untuk memperkenalkan Tuhan Yesus Kepada orang lain.
Jerih payah Pekabaran Injil yang dilakukan Bapak Yoso Artono (alm) tidaklah sia-sia. Pada akhir tahun 1965 Bapak Sastroredjo (alm) tergerak hatinya ingin mengerti dan mendalami (Apa dan Siapakah) agama Kristen. Bapak Yoso Artono (alm) lapor kepada Bapak Pdt. Jahja Soerjaatmadja (alm) untuk datang kerumah Bapak Sastroredjo (alm) untuk berkenalan. Setelah diadakan percakapan tentang agama Kristen terutama diperkenalkan kepada Tuhan Yesus Kristus beliau menyatakan bahwa ada beberapa orang yang ingin masuk agama Kristen. Bapak Pdt. Jahja Soerjaatmadja (alm) menyarankan agar mengumpulkan mereka orang-orang yang ingin masuk agama Kristen dirumahnya. Selanjutnya beliau bapak Sastroredjo (alm) mengumpulkan saudara-saudara tersebut termasuk beliau bapak Iskandar (alm) dan yang lainnya pada waktu/hari tertentu di rumah bapak Sastroredjo (alm).
Sebelumnya oleh Bapak Pdt. Jahja Soerjaatmadja (alm) untuk beberapa kali pertemuan diadakan saresehan setelah mantab ingin menjadi Kristen saudara-saudara yang telah tergerak hatinya untuk mengikuti kebaktian hari minggu di GKJ Parakan. Selanjutnya diadakan katekisasi setiap minggu satu kali di rumah Bapak Sastroredjo (alm). Karena pada waktu itu transportasi/kendaraan belum seperti sekarang ini dan yang berminat belajar agama Kristen semakin bertambah akhirnya diputuskan untuk mengadakan kebaktian di desa Traji biarpun pada waktu itu belum dijadikan Pepanthan. Kebaktian pinjam rumah Bapak S Adisuroso (alm) (kakak Bapak Iskandar).
Bapak Pdt. Jahja Soerjaatmadja (alm) dengan tekun melayani katekisasi selama ± 1 tahun dan setelah pengetahuan imannya dianggap cukup maka pada tanggal 25 Desember 1966 dilayani Baptis Suci. Khusus bagi bapak-bapak ibu-ibu dan anak-anak dari desa Traji yang baptis sebanyak 29 jiwa yang terdiri dari: dewasa 12 jiwa dan anak-anak 17 jiwa.
Sejak tahun 1966 orang-orang dipanggil Tuhan semakin bertambah setiap tahunnya. Kemudian sejak tahun 1966 ditetapkan Traji sebagai pepanthan GKJ Parakan. Secara khusus untuk melayani anak-anak dan remaja baik sekolah minggu dan katekisasi diserahkan kepada pembantu pendeta yaitu Bapak Eklas Sutrisno (alm). Pada waktu itu rumah yang dipakai kebaktian karena rusak lalu dibongkar kebaktian minggu pindah dirumah Bapak Sastroredjo(alm).
Dalam perkembangan selanjutnya untuk memelihara kehidupan rohani warga gereja di Traji oleh Majelis GKJ Parakan Memanggil beberapa orang untuk menjadi anggota majelis GKJ Parakan pada tahun 1967 antara lain: Bapak Iskandar (tua-tua) Bapak Sastroredjo (tua-tua) Bapak Djumadi Pudjo Siswoyo (diaken) Bapak Sutrisno Samsuri (diaken). Semangat menjadi orang-orang yang menerima Anugerah Tuhan dan menerima panggilanNya dirasakan begitu luar biasa sehingga tumbuhlah kesadaran dan juga kerinduan untuk memiliki tempat ibadah.
Melalui semangat-semangat kebersamaan “sangkul sinangkul ing bot repot” biar dengan susah payah dapat membeli sebidang tanah. Tahun 1971 atas semangat gotong royong warga mulai membangun Gedung gereja meski hanya sederhana yang diresmikan pemakaiannya pada tanggal 25 Desember 1971 sekaligus merayakan natal.
• Masa Pertumbuhan jemaat di tanah Traji
Tahun 1971 sampai dengan tahun 2001
Dalam perkembangannya Setelah Bapak Pdt. Jahja Soerjaatmadja (alm) emeritus pada tahun 1993 GKJ Parakan memanggil Bapak Supriyadi S.PAK sebagai pendeta ke-4 GKJ Parakan (pendeta ke-3 Bapak Pdt. Em. Soedharsoo py (alm). Yang dulu ditempatkan dipepanthan Ngadirejo yang sekarang menjadi GKJ Ngdirejo).
Pada masa pelayanan dan karya Pdt. Supriyadi SPAK. Bersama dengan majelis Gereja Kristen Jawa Parakan dalam menggembalakan warga gereja yang ada di pepanthan Traji pada khususnya terus menunjukkan adanya perkembangan dan pertumbuhan gereja. Melalui segala kegiatan gereja yang diselenggarakan baik secara local di pepanthan Traji maupun kegiatan Bersama GKJ Parakan serta kegiatan-kegiatan Klasis Kedu saat itu semakin menunjukkan kemampuan gereja menuju ke kedewasaan iman warga gereja. Melalui pergumulan-pergumulan yang ada serta perjuangan yang terus dilakukan akhirnya Majelis GKJ Parakan memutuskan pepanthan Traji untuk berlatih mandiri. Dengan pendampingan yang terus dilakukan oleh majelis GKJ Parakan warga gereja terus berproses menuju kemandirian.
Pada persidangan Klasis Kedu di GKJ Wonosobo dan GKJ Bendungan majelis GKJ Parakan mengusulkan rencana pendewasaan pepanthan Traji dan memanggil pendeta untuk pepanthan Traji yang akan didewasakan. Adapun pelaksanaan pendewasaan bersamaan dengan pentahbisan Pendeta. Kemudia pada sidang Klasis Sindoro Sumbing yang pertama (hasil pembiakan Klasis Kedu menjadi Klasis Magelang dan Sindoro Sumbing) di GKJ Jonggolsari pepanthan Leksono Majelis GKJ Parakan melaporkan bahwa telah terpilih calon Pendeta pada Sdri. Puji Sulisyanto S.Th. berasal dari GKJ Bumiagung Gombong kebumen. Pemilihan yang diadakam pada hari minggu 18 Februari 2001 demikian juga didalam persidangan tersebut dilaporkan oleh Visitator Klasis Sindoro Sumbing tentang kelayakan pepanthan Traji menjadi dewasa dan persidangan menyetujui dan membentuk tim pembimbing untuk calon pendeta serta memperkenalkan majelis GKJ Parakan mengadakan kontrakta. Adapun pelaksanaan sidang kontrakta pada hari senin 15 Oktober 2001 di GKJ Parakan bersama dengan GKJ Wonosobo Timur. Dalam sidang kontrakta memutuskan kelayakan Sdri. Puji Sulisyanto S.Th. untuk ditahbiskan sebagai pendeta. Dan pada hari Sabtu 22 Desember 201 di gedung gereja pepanthan Traji dilaksanakan kebaktian pendewasaan pepanthan Traji menjadi Gereja Kristen Jawa Traji dan pentahbisan pendeta atas diri Sdri. Puji Sulisyanto S.Th. sebagai pendeta GKJ Traji yang pertama.
• Masa Perkembangan Jemaat Sebagai Perjuangan GKJ Traji
(tahun 2001-2009)
Dalam perjalanan mengamban tugas panggilan gereja dalam pemeliharaan iman dan pewartaan injil terus dilaksanakan melalui berbagai macam pelayanan gereja baik untuk warga gereja maupun masyarakat sekitar. Dan buah pekabaran injil terus dapat dirasakan dengan bertambahnya warga gereja (petobat baru) baik yang berada di wilayah desa Traji maupun yang ada di wilayah desa Bangusan.
Sebagai gereja yang dewasa (kemandirian dalam hal Teologi Daya dan Dana) maka terus diupayakan dalam menata kehidupan bergereja yang dijalani dengan penuh semangat kebersamaan untuk memujudkan perjuangan membangun mental spiritual jemaat (pembangunan rohani/iman jemaat) dan sarana prasarana untuk menopang tugas pelayanan yang semakin mantap.
Pada tahun 2003 Majelis gereja membentuk panitia pembangunan gedung gereja dan pastori yang diharapkan dapat membangun Gedung gereja yang baru dan juga pastori di tanah milik gereja yang dibeli dari Bapak Sutisno yang letaknya di kampung Bon Gede beberapa tahun sebelumnya. Dalam perkembangannya pada tahun 2004 dimulai rencana pembangunan pastori dan dapan diselesaikan pembangunnannya tahun 2005.
Pada bulan Agustus 2005 pastori kemudian ditempati oleh bapak pendeta Puji Sulistyanto beserta keluarga dengan diadakan bidston memasuki Gedung pastori. Adapun pelaksanaan pembangunan gereja dimulai tahun 2006 dengan dukungan masyarakat setempat warga gereja instansi pemerintah maupun swasta. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Bapak Ariyanto selaku kepala desa Traji yang didampingi oleh perangkat desa. Setapak demi setapak langkah perjalanan yang pasti dimulai walaupun disadari banyak hal yang menjadi rintangan gangguan dan tantangan-tantangan iman.
• Masa Pertumbuhan Jemaat sebagai Buah Karya
Pelayanan GKJ Traji (Tahun 2009-sampai sekarang)

Betepatan hari ulang tahun GKJ Traji yang ke-8 (satu windu) 22 desember tahun 2009 tempat untuk ibadah pindah ke Gedung gereja yang baru sekalipun pembangunannya belum selesai. Sedangkan yang memimpin syukut HUT GKJ Traji adalah Pdt. Lukas Reko Sukoco MTh dengan team campursarinya.
Upaya untuk terus berjuang dalam mewujudkan pertumbuhan gereja tidak lepas dari berbagai macam dinamika kehidupan bergereja dan juga rintangan dan tantangan dari dalam maupunm dari luar namun dengan penyertaan Tuhan buah karyan pelayanan gereja tetap dapa dirasakan hasilnya.
Dalam perkembangan selanjutnya pada tahun 2016 ada wacana bahwa dalam usia ke-16 tahun GKJ Traji diharapkan ada nama baru untuk gereja dan candrasengkala. Jemaat dipersilahkan untuk memberikan usulan nama dan candrasengkala.
Tahun 2017 dalam persidangan Majelis Gereja Istimewa diterima dan diputuskan 4 usulan nama gereja dan 2 candra sengkala untuk dipergumulkan dan selanjutnya dipilih salah satu nama dan candra sengkala.
Pada bulan Agustus 2017 Majelis gereja memutuskan satu nama gereja yaitu ”EPIFANI” dan candra sengkala “ PIWULANGING GUSTI IKU MINANGKA LUHURING PANEMBAH” hari jumat 22 Desember 2017 dilaksanakan ibadah syukur HUT GKJ Traji ke-16 dan pemberian nama gereja.
Dengan harapan supaya gereja benar-benar nyata dalam hidup Bersama ditengah masyarakat Bangsa dan Negara sebagai saksi Kristus

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Informasi Kontak

© 2022 Created  Sinode GKJ